Telat Peka

Jujur saja, baru sore ini aku pahami. Ada sebuah salah sangka nampaknya. Atau kebetulan saja? Entah, aku hanya akan sedikit bercerita dalam perasaan was-was sedikit resah.

Lama tak ku tulis cerita, cerita baru, di blog ini. Mungkin terakhir ketika belum magang di Jogja. Sudah sudah, bukan itu yang ingin aku bicarakan. Jadi begini, agak berat hati aku tulis hal yang seharusnya ku simpan sendiri. Masalahnya aku masih tak habis pikir, jika cuma kebetulan seharusnya tak sesempurna ini.

Singkat saja kisahnya, nampaknya aku menambah dosa, atau hanya feeling ku saja. Beberapa waktu yang lalu, aku menyindir seorang perempuanku, perempuan yang menemani aku ngecrew, manggung, bahkan ketika aku kerja di studio rekaman di perbatasan kota Batu – Malang. Perempuan itu sebut saja “Nona”. Sesosok perempuan yang sudah 2 bulan ini kami jalan. Ah, dia ini penikmat musik indie, dan pula penulis puisi soal isi hati. Istilahnya curhat dengan tulisan yang berkenikmatan. Jauh sebelum ku jadikan dia perempuanku, ada hal yang ia ucap, “Nanti, satu puisi soal kamu dari sudut pandang seorang aku bakalan muncul di mading pers kampusku.” Begitu katanya kala itu. Yang ku sebut jauh sebenarnya tak jauh juga, karena kami hanya kenalan 3 minggu sebelum jalan. Ya otomatis 3 Minggu langsung jadian. Cepat kan? Tidak juga, karena waktu itu jarang aku bisa tidur lebih dari 4 jam lamanya, makanya terasa lama. Lalu apa yang kau ceritakan sebenarnya, ha? Sabar, lanjut ke paragraf yang lebih mendalam.

Tak lama dari tulisan ku ini, ku buat sindiran di IG Stories, agar kelak ia baca yang mana selalu dia yang muncul di penonton paling atas. Tak ku kira, sibuknya dia yang memang seorang aktivis baru sepertinya masih membuat sadarnya beku. Tenang saja, ia tak tahu perihal blog ini, jadi tulisan ku ini bukan menjadi pengingat yang kedua kali. Mungkin efek mahasiswa baru masih waktunya berkecimpung dengan alam baru, ku biarkan saja, aku dulu juga seperti dia. Sebenarnya, sembari menunggu puisi dari dia, yang katanya akan panjang baitnya, ada tulisan yang membuat ku sedikit terhibur tak semestinya. Karena aku pun lupa, ada perempuan lain yang berkata akan menulis sesuatu tentang aku. Ya kagetnya aku karena seakan terngiang di pikiran kalo sindiranku salah sasaran. Maaf kan, tapi terimakasih karena tulisan itu cukup menenangkan perasaan, tak ada embel-embel basa-basi disana, aku suka. Tapi sekaligus maaf, karena tingkahku setelah tahu sepertinya kurang memuaskan, cenderung heran. Ya karena aku belum sadar tentang prasangka ku ini. Untuk Nona yang sudah meluangkan waktu dalam seninya itu, semoga kalo kamu baca, jangan marah ya, pahami aja, aku memang telat peka. Jangan hapus tulisan mu itu, biar bisa ku baca setiap aku ada waktu.

Sebagai penutup, aku cuma bisa bilang kalo alfabet ke 10 itu bukan cuma milik 1 orang.

Akan ada waktunya dimana hidup itu tentang memahami sesama, bukan sekedar mau menerima.

Advertisements

Angin

Angin…

Alur pada likuk daun melati
Membuat memori masa kecilku kembali
Kala kecup dari ibu, peluk dari ayah
Menghangatkan dinginku yang marah

Seiring daun itu berdansa
Sang angin terus memberinya tawa
Candu canda geraknya terhenti
Sang angin meredup, sang angin pergi

Disela-sela sudut taman bunga itu
Pernah ada lembut yang melambai jauh
Bersamaan dengan pudarnya sang angin petang
Sadarku tersadar arah tuk kembali pulang

 

Malang, 12/11/17

Aku Tahu, Ayah

Ayah,
Aku tau ayah letih,
Aku tau ayah lelah

Ayah,
Kasar jarimu bukan berarti kau tak punya hati
Wajah layumu bukan berarti kau tak punya waktu
Kau cuma sedang sibuk untuk masa depanku

Ayah,
Aku sudah besar
Aku sudah mampu untuk membuatmu berbinar
Kau sudah membentuk aku
Kau bentuk tanpa paksa
Kau buat aku jadi manusia

Ayah,
Istirahatlah,
Sekarang waktuku untuk berjuang tanpa lelah

Inspirasi

Setelah lama tak menulis lagu seperti yang biasa aku lakuin, entah kenapa ada keinginan untuk menulis lagi. Ada perasaan untuk membuat karya yang sesuai dengan gaya dan tujuan. Tapi, perasaan ini muncul lagi-lagi karena kamu. Karena karya-karya kamu. Ada niatan untuk mengubah karya hebat mu menjadi bersahabat dengan telinga via suara. Ada keinginan untuk menambah harga dari yang kau buat secara sederhana tapi mewah. 

Kesibukkan itu pasti, apalagi sekarang masuk ke minggu-minggu akhir magang. Banyak laporan dan project yang harus diselesaikan. Tapi, mengulang kejadian yang sama, yaitu menikmati karya mu, tak pernah ada kata bosan didalamnya. Selalu menjadi inspirasi untuk direnungkan, untuk menata masa depan. Kalo aja kamu tuh berani mengkomersilkan, pasti impian yang kamu kejar sedari dini ga perlu serepot itu kamu pikirkan. Lihat aja, kamu berpikir melompat jauh kedepan untuk nantinya kamu gunakan meraih hal yang cuma 3 langkah kedepan. Niat bisa bantu, tapi bingung. Yang sekarang aku lakukan, akan dilakukan, semoga bisa membantu. Sedikit atau banyak tak masalah. Usaha itu ga mengenal kata kalah, yang ada cuma sukses atau menyerah.

Nona, aku tau kok ada kalanya nanti kamu buka dan baca tulisan ini. Mungkin karena kamu iseng, atau menyesal. Dan saat itu pula aku yakin kamu langsung paham. Langsung tau kalo banyak dari tulisanku ya tentang kamu.

Nona, aku berusaha.

Kita begitu dekat, seperti akar terhadap tanahnya. Tapi kita tak sebegitu paham, seperti air dengan minyaknya