Juli

Dunia tak akan berakhir di bulan Juli. Setidaknya, ku pastikan ragaku mampu bertahan di bulan ini. Sebagai catatan buatmu, karya setelah epilog disebut “Permulaan Baru”.

Advertisements

Epilog

Dosen pembimbing 1 hari ini pergi, seminggu, katanya. Jatahku kemarin jumat tak bisa terlaksana, itu step penting sebelum kelar semua usaha. Dan ternyata, gagal. Tak bisa ditemui, sibuk banyak antri dan ternyata sidang skripsi, lalu beliau pergi. Jatahku masih ada seminggu, tetapi kalau beliau pergi dalam minggu itu, aku bisa apa? Dosen pembimbing 2 saja tak ada, selalu sibuk dengan segala praharanya. Jika dibilang langkahku akan terhenti disini, aku berkata jangan! Tetapi, semua lagi-lagi kembali kepada kepunyaan. Aku tak tahu, apa bisa aku lanjut jika harus menunggu semester yang baru. Aku pula tak paham angka 444 yang selalu muncul dua bulan ini artinya apa. Ia muncul di kertas, halaman, jam digital, dunia maya, dimana saja dan angkanya selalu sama, sehari bisa belasan kali, jadi aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi. Tak ada kebetulan yang berkelanjutan, kecuali itu sebuah pola, atau pesan. Aku sudah tak punya apa-apa. Rasa percaya untuk menunggu minggu depan lalu keajaiban datang pun sudah tak ada. Jika step itu tak tergenapi, aku tak bisa membayangkan apa-apa lagi. Kalau aku tak bisa membayangkan, aku pastikan aku tak bisa melakukan aksi yang benar-benar akan berjalan. Aku terduduk diam, seharian lebih. Mencoba tetap tertawa, tetapi malah maki yang keluar. Mencoba tak bersedih, aku bisa menahan satu itu, tapi rasa bingung dan kecewaku tetap terasa. Bukan kecewa karena kedua bapak nan hebat itu belum menggenapi step skripsiku, tetapi kecewa karena apa yang keluargaku pasangkan pada pundak ini tak bisa kuolah dan tak terealisasi.

Aku sudah pernah merasa gagal menjadi anak dari Ibuku. Dimana karena usiaku masih 3,5 tahun kala itu, aku belum begitu mengenalnya, dan sakitnya yang entah datang dari mana seketika merenggut senyum yang masih kuingat dari wanita elok dermawan dengan rambut yang terurai panjang hampir ke lantai kala itu. Ibu, maafkan aku. Hanya beberapa momen yang masih bisa ku ingat tentangmu, saat kau mandikan aku di sebuah salon kampung China yang pemiliknya selalu baik padaku, aku ingat itu bersama anjing dombermannya. Saat kau tertatih menahan sakit berjalan bersama Bapak ke kamar mandi, aku ingat itu. Saat kau tertawa sembari terduduk dikursi yang bolong tengahnya akibat dari pengobatanmu yang aku tak tahu apa kala itu, aku ingat. Saat kau mengusapkan bedak pada pipimu dan gincu di mulutmu pada suatu pagi di kamar yang sekarang jadi kamarku, aku ingat. Beberapa hal lain masih ku ingat, tetapi dengan usia 3,5 tahun itu, aku tak bisa mengingat banyak. Yang paling kuingat adalah saat aku melihatmu terbaring tersenyum puas dan ikhlas disebuah peti ukiran, dengan baju merah bunga-bunga dan bawahan hitam, aku sangat ingat. Lalu aku berlari kedepan rumah, mengepalkan tangan dan berdoa, Bapa Kami, didepan banyak orang yang sedang terduduk di kursi. Aku menyatakan diriku gagal sebagai anakmu karena cuma itu, cuma sebatas ingatan terpotong-potong seperti itu yang aku ingat darimu. Tetapi aku selalu bangga denganmu, Ibu, orang selalu berkata Ibu adalah wanita dermawan, tak pilih kasih, selalu berbagi, dan tak pernah ribet ataupun ribut. Mereka yang bercerita tentangmu selalu terpampang muka yang penuh bangga bahwa mereka mengenal engkau. Tenanglah, maafkan aku, dan terimakasih.

Aku sudah pernah menjadi anak yang gagal kepada Bapak. Yang selalu membangkang dan membatu saat diajari hal baik kala kecil, hingga akhirnya Bapak tak pernah menasehatiku lagi agar aku tak marah-marah karena saat kecil sangatlah labil. Aku belum bisa memenuhi permintaanya, yang sangat-sangat ia inginkan, dan itu semua karena aku merasa benar padahal cuma keegoisan. Aku belum bisa membangun rumah yang Bapak ingin aku dan kakak bangun bersama, belum bisa menuntaskan apa yang Bapak perjuangkan sedari awal, dengan dedikasi tinggi hingga bapak sakit-sakitan tapi sembunyi. Aku belum bisa membawa nama keluarga ini menjadi lebih berada, keluarga ini sudah sering dipandang baik, tetapi masih kurang katamu, kita masih belum maju. Lalu aku sangat-sangat mengecewakan Bapak, karena aku tak tahu dan tak ada disampingmu saat Bapak sakit, masuk rumah sakit, dan bahkan saat bapak terbaring untuk hembusan nafas yang terakhir. Aku tak ada disana, aku tak tahu apa-apa karena Bapak sengaja meminta untuk keluarga agar tak memberitahukan kepadaku sakitmu. Hal itu karena Bapak cuma tak mau aku kepikiran, sehingga aku bisa tetap semangat menuntaskan apa yang seharusnya ku tuntaskan. Ia tahu bahwa aku sibuk, dan aku cuma bisa dihubungi malam hari, yang selalu Bapak ceritakan apa yang biasanya terjadi. Tetapi ada panggilan terakhir, terakhir sekali, dan itu bukan suara Bapak tetapi suara kakak, om, dan tetangga. Aku tahu dengan sangat terlambat. Dan apa yang paling membuatku menyesal kala itu? Keretaku telat sampai dan aku bahkan tak bisa melihat Bapak sebelum dimakamkan. Aku sama sekali tak bisa menyentuhnya di waktu terakhir, di waktu sebelum ia menyatu dengan alam, dengan Tuhan dan dengan Ibu. Aku gagal menjadi anakmu. Keberadaanku disini karenamu, yang berdoa, yang puasa, yang tetap memaksa bekerja agar apa yang aku butuhkan tercukupkan. Lalu sekarang, aku merasa sudah tak ada jalan lagi aku untuk menuntaskan apa yang seharusnya kulalui, aku gagal lagi. Tenanglah, maafkan aku, dan terimakasih.

Aku, membuat blog ini, pada tanggal yang sama saat Bapakku pergi. Dan aku pernah berkata, kudedikasikan blog ini untuknya dengan menuliskan apapun yang kurasa selama aku masih hidup, dan masih ada layanan blog ini. Jadi, jika esok, lusa, atau kelak aku tak menggoreskan ketikan di blog ini, hanya 2 hal tadi yang terjadi. Aku merasa, aku kelewat pintar dalam membuat orang lain kecewa. Pak, Bu, mas, maafkan aku. Terimakasih.

Sangkan Paraning Dumadi

1:55 17-4-18

Ada yang bilang kalau menyerah bukan alasan. Ada yang berkata jika perjuangan tak mengenal batasan. Ada yang berasumsi bahwa saat jatuh sebenarnya kita bisa bangkit dan kembali berlari. Itu semua hipotesa mereka. Hal hal yang keluar berdasarkan apa yang mereka anggap benar. Coba ku tanya, mereka pernah tersesat disebuah tanggung jawab yang dahsyat? Jika pernah, ditambah bingung harus bagaimana ketika buntu adalah ujungnya? Dilanjut pernah tak dipersulit oleh faktor yang seharusnya membuat mereka bangkit? Lalu pernahkah mereka merasa cuma bisa pasrah padahal niat sedari awal penuh dengan gairah? Diakhiri fakta bahwa dari awal mula, mereka tak tahu apa-apa.

Aku sepertinya kelewat nekat, main hajar main embat. Berbisik dalam hati “pasti bisa ini”. Lalu ternyata, ada faktor yang selayaknya membantu malah membatu, yang harusnya mengajari malah asik sendiri, yang menjadi keharusan malah tak pernah memperhatikan. Lalu aku harus bagaimana kala sudah begini? Pulang? Kembali? Kemana ha? Lanjut? Bersabar? Dengan apa ha? Ku pertaruhkan semuanya disini, dan sampai detik ini aku belum bisa membuat titik terang. Sekarang sangatlah remang-remang. Aku tak paham, apa kata mereka yang keringatnya, tangisnya, darahnya ditumpahkan demi sebuah keberadaanku di tempat ini. Aku bingung! Tak pernah sebingung ini, tak pernah selama ini! Jujur sajalah, aku selalu ingin memperlambat waktu, karena ketika hari berlalu maka makin dekatlah takutku. Aku bisa pastikan, setahun setengah ini aku sangat kewalahan! Mungkin bila remuk kubiarkan hancur, tak akan ada aku detik ini. Dengan bekal sisa-sisa rasa percaya, rasa sadar diri, rasa hutang budi, aku ingin tetap menerjang apa yang sudah dan akan aku lawan. Tetapi, aku masih saja kehilangan nurani. Aku tak tahu kemana harus kulangkahkan ratap telapak kaki. Seakan apa yang aku pijak, tak membuatku sedikitpun berpindah jarak.

Aku sedang tak tahu, tolong bantu aku.

Resiko

Saat ini tengah terduduk didepan 3 monitor, 1 layar untuk recording, 1 layar untuk compossing instrument, dan 1 layar lagi layar kecil isinya master and mixer studio. Disebelah sana ada ruang yang sengaja dibatasi tembok kedap suara dan lapisan kaca, melihat beberapa orang tersenyum, bingung, ada yang sibuk dengan hpnya, ada pula yang sedang membaca sebuah kertas coretan karya mereka. Ya, sesi recording, satu sesi bisa 6 jam lebih. Itu buat mereka, musisinya, atau client, tapi bagi ku, sound engineer sekaligus mixer man, bisa beberapa hari buat ngelarin sebuah single. Tapi itu semua ada uangnya, yang bagiku saat ini cuma ku anggap bonus. Ya, aku lebih fokus cari pengalaman. Biar aku yang bodoh ini, bisa punya tambahan ilmu untuk nanti ku jadikan bekal, modal, uang saku untuk kehidupanku sendiri. Dengan earphone di telinga, memerah, tetap saja ku dengar nada yang sama, progresi yang sama, suara yang sama, beda efeknya. Seakan dari beberapa lagu yang bagiku “ngga banget”, lama lama karena tak punya pilihan selain mendengarkan lagu itu, ya jadi hafal, jadi kebayang terus lagunya.

Kalo dilihat dari segi cari duit alias kerja, ya aku senang-senang saja dengan hal kayak gini, tapi, jadi lupa waktu, cepet banget berlalu. Ujungnya aku jadi di studio terus. Kemarin kamis juga kebetulan diajak open mic stand up comedy di Wonokromo, Surabaya. Acara itu juga cuma kujadikan bekal dan modal kehidupan, modal kebisaan, pasti bermanfaat kelak. Ya memang, tetap dibayar sebagai akomodasi pulang pergi, tapi fokus ku ya selain menghibur diri, aku juga menghibur orang lain. Kayaknya ini karena udah jarang manggung, dalam artian sebagai performer, bukan soundman. Namanya mahasiswa tua, anak-anak udah pada sibuk, ngurus skripsi, ngurus kerjaan part time, ngurus warkop, ngurusin cewe orang lain, banyak lah urusan anak-anak kalo udah tua gini, jadi jarang latihan, ngumpul sih tetep.

Nyari duit ternyata ga gampang, tapi meski sulit, kalo sesuai hobi atau passion, rasanya enak-enak aja. Kayak kita sekedar melakukan hobi tapi dibayar. Ga mudah buat dibayar padahal dari hobi, makanya nikmatin aja. Makin kesini kayaknya temen nongkrong juga pembahasannya makin beda, ada yang pengen cepet lulus biar bisa nikahin ceweknya, ada yang pengen cepet wisuda biar dibolehin ortu kalo dilamar cowoknya, ada yang masih bingung mau kerja dulu atau mau secepatnya nyariin menantu buat ibu. Wah ini kok mereka ujungnya ke nikah, cowok cewek sama aja. Ada yang minggu lalu marah-marah gegara diselingkuhin ceweknya, ada yang curhat harus cepet nabung karena ceweknya maksa (ini udah tua ceweknya), ada juga tuh yang masih mencoba kuat padahal 1 tahun lebih ga ketemu (LDR). Uniknya ada lagi yang ditinggal ceweknya ke Jakarta karena udah lulus terus mau nyari kerja dan temenku ini nanya sana sini gimana jadi couple LDR yang baik. Anak-anak auto nunjuk aku, satu temenku 1 tahun ga ketemu tadi, sama satu orang yang kena selingkuh ceweknya. Dua temen ku ini udah ngasih tutor 90% lah. 10% nya dari aku, dan cuma ku isi satu kalimat, cuma dia yang denger waktu itu, auto berhasil katanya.

Jadi makin tua itu makin beda bahasannya, bukan berarti ga bisa nerima bahasan mereka yang masih muda. Dan seperti awal mula dari lahir, aku lebih suka deep talk, obrolan dalam yang topiknya ga recehan. Hal itu kayaknya yang bikin anak-anak nongkrong selalu nunggu aku ngomong, karena mereka bilang apapun yang kita omongin, hampir semuanya bakalan terfokus sama topik yang aku lontarkan. Padahal aku spontan gitu, bahas agama, negara, politik, setan, politik negara yang menggunakan kedok agama padahal setan, dan masih banyak lagi kayak kenapa ingus gurih, kalo cewek berkumis cakep ga, harga semen sekarang berapa, kadang ga penting gitu tapi bisa ribut kalo udah kesulut topik ku. Ya begitulah, berbaur, bersosialisasi. Dulu jaman SMP, mana bisa aku jadi orang yang open topic, nimbrung aja paling cuma ketawa atau dengerin, berarti pengalaman mengubah cara kita dalam melakukan suatu tindakan. Dan karena itu lah, makin banyak nimbrung sama orang baru, makin banyak job, makin banyak pengalaman, resiko jadi orang jahat tapi jelek ya begini, mau masuk mana aja cocok, ga harus milih milih, bisa baur kemana aja, kaya Bapak.

Ingin Tahu

Nikmatnya jadi orang yang rasa ingin tahunya gede banget kayak gini adalah, saat suka musik, belajar cara bikinnya sama cara mainin alat-alatnya jadinya sering manggung di kampus dan di luar juga kadang diminta jadi crew / soundman. Suka ngegame, belajar cara bikin gamenya meski masih belum hisa dibilang wah. Suka browsing, belajar cara bikin web yang bagus dan ga lemot yang ujungnya sempet dapet uang dari sana. Suka nonton sulap, belajar cara mainin sulap dan cara bikin trick sendiri alhasil menghibur temen pas ngopi, nongkrong atau pas lagi dicurhatin. Suka nonton standup, belajar cara nulis materi dan open mic yang bisa dibilang pas pertama standup pecah banget ngakak berkelanjutan. Dan banyak hal lain yang ya, kesemuanya adalah seni. Dari situ berarti bisa ditarik kesimpulan, seni adalah hal yang sangat-sangat menyenangkan, variatif, dan bisa dipelajari. Ya, bisa dipelajari! Bakat boleh dibilang modal secara free, bukan berarti seni cuma bisa dilakuin karena bakat, saat kita belajar, itu udah jadi modal buat kita yang mungkin emang karena bukan bakatnya jadi sedikit kesulitan di awal. Rasanya hidup kalo ga ada seni itu sepi bener. Ga ada musik yang bisa bikin emosi dilipat gandakan. Ga ada lukisan atau gambar yang kadang bikin kita takjub “kok bisa ya?”. Ga ada seni itu ibarat ga ada kebebasan berekspresi. Bahkan politik pun itu seni mencapai tujuan dengan manipulasi perkataan. Sedikit banyak paham lah politik, selama di kampus itu dari maba sampe tua kayak gini politik bisa dibilang makanan sehari-hari. Berkecimpung tapi cuma sebagai backstage man, bukan wajahnya. Makin kesini, makin paham bahwa hidup itu penuh akan warna, penuh akan anugrah dari Tuhan melalui karya-karya dan usaha, tapi itu cuma hadir saat kita sadar dan bersyukur. Jadi ya hidupku ini ga boring, ga flat, 22 tahun yang ga sia-sia lah sebagai seorang individu yang selalu ingin merdeka. Nah, tinggal nanti, eksekusi mana yang bisa jadi bekal buat ngasih sandang, pangan dan papan buat anak istri. Passion harus selalu dikobarkan, ditempa, tapi kalau passion ga jadi pekerjaan utama ya ga masalah, passion bisa tetap hidup selama daya juang kita ga sengaja dibikin redup. Yang penting, sebagai seorang lelaki, harus tanggung jawab sama keluarga yang isinya mungkin beberapa anak tapi yang pasti cuma 1 istri. Sama kayak apa yang pernah diajarkan lewat realita kehidupan Bapakku.

Memaknai Suatu Seni

Aku terbahak, saat ku baca headline media. Aku tersendak, disela tawaku yang girang melihat sebuah “balasan” yang dilontarkan. Aku sangat senang, saat ada orang yang latah bertindak gegabah. Tapi hal itu, memperjelas bahwa kebebasan berekspresi untuk kalangan tertentu sangatlah dijunjung tinggi, sementara bagi kaum yang lain, dianggap tabu dan tak selayaknya bereksistensi.

Ya, beberapa waktu lalu, negara ini digegerkan dengan sebuah puisi, yang disusun sedemikian rupa, disajikan dengan dibaca bersama nada. Cuma, “cuma”, gegara beberapa kata, banyak sekali yang marah, yang murka, yang dengan semena-mena menghujat dan menghina. Padahal, mereka cuma membaca, atau mendengar, bukan memahami secara seni itu sendiri. Lucunya adalah ketika ada satu yang tersulut, yang lain ikut. Digembar-gemborkan di media sosial, sebuah puisi (katanya) balasan. Yang isinya cuma satu, mencela pencipta puisi yang katanya menista itu.

Sungguh, sebuah kegagalan nurani yang fatal, seakan seni dianggap segampang menghina dan melecehkan. Mereka pikir, apa yang mereka baca adalah mutlak, kebenaran yang paling telak. Ini menista! Katanya? Kata siapa? Kata mu yang tak tahu cara mengapresiasi? Kata mu yang tak paham apa itu seni? Kata mu yang tak mampu membedakan mana tulisan secara spontan dan mana tulisan yang merangkum sebuah pesan? Ah, kau ini bisa saja, melawak sana, pasti laku keras! Unik sekali manusia seperti kau ini, apalagi sepertinya terlihat sangat bijak nan suci setelah mampu memuaskan hawa nafsu. Hawa nafsu untuk selalu berkata mutlak pada kasus ini dan itu.

Kawan, sebelum kau mencoba mengupas sebuah karya orang lain, kupas dulu ego mu, agar nantinya, kau tak menjadikan keturunanmu malu. Lebih baik diam kalau tak tahu katamu? Kau saja tak tahu, masih tetap bicara, sehat? Semoga apa yang terjadi, menjadi pelajaran bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia seni, bahwa di negeri kita ini, ekspresi masih dianggap sebagai sebuah aksi mentah yang tak berisi. Kalau kau bertemu makhluk seperti itu, anggap saja dia butiran debu yang menghalau pandanganmu. Kucek dan biarkan terbang bersama angin yang membuatnya hilang dari siklus kehidupan.

Segera!

Kau mau? Beri aku tanda agar aku yang memulainya tanpa perlu kau repot bercerita. Tapi, tanda yang cukup jelas, bukan yang bias. Aku cuma ingin kau sadar, ya, yang tersirat dibenakmu saat ini adalah benar.

.

.

.

Nona…

Tunggu apa?