Secangkir Kopi Hitam

Sore itu, seperti biasanya, aku menikmati senja sambil duduk santai di pagar rumah. Gemericik air sungai yang sedari kecil menemani aku selalu menjadi kesejukan tersendiri dikala penat seharian penuh. Aku hanya duduk disana, sendiri diantara keramaian yang sepi. Ingat aku kala gerimis membawa suasana yang sedikit sadis. Menuju senja tiba, tak berhenti jua tetesnya… 

Dengan mataku yang sedikit rabun kupandangi pohon rambutan di seberang sana. Yang dari dulu biasa kuambil buahnya tanpa bilang ke yang punya. Tapi, senja itu tak lagi sama. Tak lagi terisi oleh celoteh garing orang yang dulu membuat kami dihitung tiga. Sekarang? Dua! Dingin kala itu membuatku ingin yang hangat hangat, yang sebisa mungkin dibalut pekat. Dan terjadilah pada akhirnya, ku buat kopi pada cangkir besar yang merah tua.

Kopi ini, kuminum sejak aku belum sekolah, sebelum TK malah. Kopi yang sama seperti 17 tahun silam. Kopi berlogo kapal yang bercampur merah hitam. Kopi yang dulu kita minum bertiga hampir disetiap penghujung senja…

Kopi ini… saksi perjamuan abadi…

Getir yang terkecap dalam pekat sedahsyat penyesalan yang selalu hadir paling telat

Advertisements

Teruntuk Wanita Penulis Sajak

Hai nona penulis sajak…

Aku pengagummu. Aku penikmat sari senimu. Tetaplah menulis dan berekspresi karena mungkin itulah jalanmu nanti. Jalan yang selalu kau tanyakan pada Bumi. Jangan ragu pada karyamu, karena aku, salah satu saksi keindahan itu. Biarkan aku menengokmu dari luar pagar. Dari batas yang selalu kau garis tiap kali aku mencoba menyapa manis.

Dengar ini nona si penulis sajak. Ijinkan aku setidaknya tetap bernafas bersama lega. Rasa yang sama saat kau curahkan emosi dalam setiap penggalan kata. Percaya aku, percayalah. Yang kau tuang itu sangat indah. Hal yang lama tak ku jumpa pada buku-buku berlabel karya sastra. Sebenarnya ingin aku mengusap tangismu. Langung, tanpa tisue. Ingin pula aku menculikmu, membawamu pergi dari kelammu. Namun aku tak yakin, takut aku jadi kelammu yang lain.

Nona, kita sama-sama tahu, seni bukan untuk dikomersialisasi. Tapi, tak ada salahnya kau biarkan dunia merasakannya, menikmati setiap tuturmu yang apa adanya. Cukup kau saja yang tau, kelak yang kau tulis akan jadi alasan kau mampu tersenyum manis. Ijinkan egomu pudar, lalu peluk dunia dengan tegar.

Nona, lahirmu bulan ke-7 kan ya?

Semua jerih dan lelah akan menjadikanmu sejarah