Jogja, Tunggu Hamba

Ga kayak biasanya, menulis postingan dengan penuh kebugaran raga. Kali ini sedikit loyo banyak meriangnya. Lama banget ga ke kota satu ini, kota Jogja, kota seni. Padahal ya rumah sama kota ini ga terlalu jauh. Masalahnya adalah aku lagi ga di rumah, tapi ngerantau di bagian hampir pojok timur pulau Jawa. Kebetulan aja, abis kelar UAS, ada kesempatan buat 2 bulan disana. Dan aku udah ngerasa bakalan bikin terobosan baru di kota itu. Tentu sama partner musik ku. We love Folks music and their taste of Folks is totally at the top of the chart. Nah disitu mulai ada kepinginan nyoba buka jalan. Yap betul babat belukar dan keluar dari zona nyaman.

Oh iya, kenalin juga ya, partnerku yang bisa dibilang skillnya dewa. Jauh lah dia diatas sana sementara yang nulis pos masih kelas rendahan haha. Ya udah banyak komposisi kami lalui bareng. Mulai dari akustik rock, deathcore hardrock, dan jazz folks. Lebih dari itu sih, banyak, punk udah, blues pernah, dan semua berasa kurang nyatu, banget, kecuali kalo kami cuma main berdua. Ya, jadi banyakan project gagal karena cuma main di band dan biasanya ngisi acara acara kampus aja tapi latiannya jarang. Yang setara universitas dulu udah, komposisi sama paling ganti penyanyinya. Di fakultas udah, jurusan apa lagi, bahkan yang acara umum pernah sekali jadi pengisi. Dan project yang mungkin bakalan gagal lagi ya konsep progresif rock yang dibikin awal tahun ini.

Cerita punya cerita, yang tetap langgeng dan banyak ditanya “Kapan latian lagi kalian?” ya pas aku sama dia doang. Berdua akustikan. Bawain lagunya Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Danilla, intinya lagu yang indie lah ya. Semua berasa kayak ini satu-satunya tipe lagu yang kami bawainnya nyatu. Dan desas desus pun terbuka lebar, emang kalo main musik tapi ga bisa catching feels bareng itu jadi ga nyaman. Gantung dan bikin ga “edan”. Ya mau gimana, tipe pemusik kan beda-beda, selera bisa mirip tapi ga sama. Dan komunikasi itu yang paling susah.

Begitulah, curhatan kali ini kok agak melenceng dari judul ya. Tak apa lah yang penting pas di Jogja, usaha! Ada kesempatan sambil magang KKN ya dimanfaatkan sebaik mungkin. Cari banyak channel, main banyak musik di luar, menggila di jalanan kali aja ada yang ngelirik terus ngajak kenalan. Ok, yang terakhir itu lupakan. Jogja, tunggu kami ya. Berikan kami pengalaman yang sangat berguna bagi masa depan, terutama musik dan seni. Sekian.

Nikmatnya seni hanya bisa terealisasi dengan mengapresiasi, semakin terbuka, semakin kaya manfaatnya

Bekal Kehidupan

Sejak masuk kampus, di awal-awal, terlabeli dengan mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Entah kenapa waktu itu datang ke kampus bawa laptop, belajar sambil wifi-an, terus pulang adalah hal yang sangat menyenangkan. Ya, lama kelamaan bosan juga raga ini. Begitu lagi, begitu lagi. 

Masuk semester 2, memberanikan diri berorganisasi, masuklah ke UKM Band di kampus ini. Niatnya cuma karena musik. Disitu juga mulai aktif acara Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) di Fakultas yang selalu diidentikkan dengan keluarga kedua. Saat itu juga agak aktif di UKM Kerohanian Katolik meskipun ga religius sama sekali. Ya namanya ingin berubah dan berkembang harus mau keluar dari zona nyaman.

Singkat cerita, kala itu ikut banyak kepanitian. Bahkan tak jarang yang double beberapa kepanitiaan diwaktu yang sama. Bukan karena gimana, tapi karena rasanya enak aja jadi banyak yang dipikirin dan dilakuin. Banyak kenal orang baru, dan ga gabut, sayangnya akademik jadi terganggu karena aku bukan orang yang terlalu akademisi.

Setelah banyak berkecimpung di dunia UKM yang setara lingkungan universitas, ada kejenuhan karena orang-orang yang terkena dampaknya terlalu luas tapi efeknya lemah. Semua yang dilakukan untuk UKM ku sebut pelayanan, jadi tak ada penyesalan. Baru setelahnya, sekitar semester 3 akhir, berkumpulah aku bersama orang-orang baru. Orang-orang yang bisa dibilang urakan, ga niat kuliah dan sebagainya, padahal mereka ini kuliah dengan cara yang berbeda dari para akademisi diluar sana. Dan anehnya, aku sama seperti mereka…

Orang-orang ini selalu berdiskusi, tentang hal yang sepele kayak rokok, pacar, hutang (iya ini ada), sampe hal yang berat kayak PTNBH, gerakan mahasiswa, politik kampus dan semacamnya. Disinilah aku merasa nyaman, bahwa bukan cuma aku yang jenuh akan pembahasan murahan. Disini tak ada yang mengikat, ga cuma bahas game mulu, ga cuma bahas nilai mulu. Dari situlah mulai merasakan ada hal yang harus diubah, pola pikir.

Semester 3 dan 4 bisa dibilang semester paling jahanam. Kuliah banyak, praktikum, project akhir, sampe kepanitiaan yang bisa numpuk. Mungkin waktu itu udah 12 kepanitian yang aku ikuti. Karena sampe saat ini ada 18 kepanitiian, sisanya kegiatan-kegiatan UKM, Fakultas dan Himpunan. Masa-masa di UKM diakhiri kala semester 4. Baru setelahnya, gegara sering diskusi yang kebanyakan bahas permasalahan kampus, terutama fakultas dan jurusan, berlabuhlah aku ranah fakultas dengan aktif disana. Barulah semester 5 jadi bagian yang mengurus himpunan jurusan. Di masa itu mulai banyak wawasan baru tentang permasalahan kampus, cara buat nanganin kondisi ini itu, politik, musik dan hal-hal yang bikin aku ngerasa ini nih yang namanya kuliah. Semakin banyak debat dan diskusi yang dialami, semakin merasa haus untuk menggali ilmu-ilmu anti mainstream. Sampai pada saatnya ikut diskusi soal agnostik, atheis dan theis, diskusi soal permasalahan ini itu termasuk soal demo akan kebijakan kampus. Disitu pula mendapatkan pencerahan bahwa negara butuh pejuang.

Begitulah sampai detik tulisan ini dibuat, yaitu akhir semester 6. Banyak hal yang sudah didapat dan dilakukan. Termasuk musik yang bisa aku bilang jauh berkembang. Semakin merasakan nikmatnya kehidupan perkuliahan yang ga sekedar akademisi. Tapi… setelah demisioner dari himpunan, setelah tuntas semua tanggung jawab di kepanitiaan, aku ingin istirahat. Berhenti sejenak dari kesibukan itu. Karena lagi-lagi aku jenuh. Jenuh bukan karena bosan, tapi karena hal itu sudah jadi rutinitasku hampir 3 tahun ini. Aku sudah mulai berpikir tentang kedepannya mau jadi apa, mau gimana. Mulai kembali berpikir tentang passion, tentang gimana sukses sesuai keinginan, tentang cara menjadi orang yang berguna dan ga sekedar jadi orang pada umumnya. Makanya aku mencoba hal yang baru. Aku udah terlalu nyaman di organisasi dan kepanitiaan. Dan sama seperti yang diawal aku bilang, kita butuh keluar dari zona nyaman untuk berkembang.

Sebelumnya, aku berterimakasih semua hal itu udah menjadi bekal dan proses pendewasaan yang menyenangkan. Terimakasih telah memberikan kenikmatan di masa-masa perkuliahan. Sekarang aku mau bereksperimen untuk hal yang baru. Pasti akan ada yang janggal setelah sekian lama aktif ini itu, tapi sekarang juga bakalan tetap aktif kok, hanya berbeda jalan saja. Tujuannya sama, sukses. Tenang saja. Gondrong (saat tulisan ini dibuat) tetaplah Gondrong yang kalian kenal. Selalu ada untuk diskusi, selalu ada untuk berbagi cerita. Kita hanya berbeda poros saja, ideologi tetap sama. Merdeka!

Tak nampak tak berarti tak gerak. Kasat mata tak kasat rasa

Sebuah Kaderisasi Zaman

Lupa aku cara menggoreskan tinta yang terurai diujung pena. Sepersekian detik gagasan yang aku siapkan, lenyap dalam satu kali kedipan. Ku tengok lagi timeline Instagram sore ini. Ku lihat sesosok yang tak terlalu ku kenal, tapi terkenal. Yang tak tau aku apa jasanya, tapi dia punya dampak yang luar biasa. Ku buka profil itu, dua ribu, angka yang tertera pada bagian jumlah pengikut. Dia siapa? Baunya di area ini, lingkup terkecil yang seharusnya dia pijaki, tak ada, sedikitpun tak ada!

Okelah dia punya kuasa diatas sana, diranah yang lebih tinggi dari aku biasa berpropaganda. Yang jangkauannya lebih tinggi satu tingkat dari apa yang pernah aku dapat. Tapi… dia siapa? Ketika ku tanya kawan-kawanku pun mereka tak tahu. Kala dia ingin maju, “loh siapa kamu?” jawab serentak kaum penggerutu. Di tempat menuntut ilmu ini, sudah lumrah terjadi, gerak sedikit besoknya jadi artis. Sudah biasa, biasa sudah. Tak urung sangka pencitraan terlampau lumrah.

Intinya aku hanya hendak bertanya, kontribusimu apa tuan penguasa? Berilah kami contoh yang baik, yang selalu kau kumandangan dengan label mahasiswa terdidik. Sudahlah, kita ngopi saja. Aceh Gayo dan Papua Wamena cocok untuk diseduh sambil bercakap mesra. Aku tak butuh kursi, kursi cuma sebatas kursi, cuma bisa bikin orang menganggapmu punya otoritas sendiri. Aku tak butuh itu. Yang aku butuh adalah kamu. Kamu ceritakan soal agendamu, aku mendengar dan menambah ilmu. Buat ku terapkan? Tidak, kawan! Cuma ku jadikan acuan suatu pola kejadian. Tak munafik lah pasti aku mau nyari untungnya. Ya, ku ambil yang baik dan cocok saja. Sisanya ya biar kau tanggung sebagai yang punya acara. Kawan, ini bukan ajang merendahkan. Ini tak cuma tertuju padamu, Teman. Ini untuk semua yang punya agenda berbeda dibelakang rencana yang tertera. Dan juga untuk ku sendiri, salah satunya.

Tulisan ini adalah opini, tak perlu kau anggap menista itu menista ini. Karena aku tak bicara soal yang semegah itu kuasanya. Kau boleh masuk kaum mana saja, boleh pula anti padanya, biar aku yang jadi netral ya. Aku lebih suka bercengkrama tanpa doktrin si B ataupun si A. Sebuah kegilaan kekuasaan yang diwariskan. Sebuah mekanisme terkenal secara karbitan. Sebuah kaderisasi zaman.

Citramu mungkin hebat bermahkotakan emas berkarat, tapi yang kau citrakan tak selalu sama dengan kenyataan