Sebuah Kaderisasi Zaman

Lupa aku cara menggoreskan tinta yang terurai diujung pena. Sepersekian detik gagasan yang aku siapkan, lenyap dalam satu kali kedipan. Ku tengok lagi timeline Instagram sore ini. Ku lihat sesosok yang tak terlalu ku kenal, tapi terkenal. Yang tak tau aku apa jasanya, tapi dia punya dampak yang luar biasa. Ku buka profil itu, dua ribu, angka yang tertera pada bagian jumlah pengikut. Dia siapa? Baunya di area ini, lingkup terkecil yang seharusnya dia pijaki, tak ada, sedikitpun tak ada!

Okelah dia punya kuasa diatas sana, diranah yang lebih tinggi dari aku biasa berpropaganda. Yang jangkauannya lebih tinggi satu tingkat dari apa yang pernah aku dapat. Tapi… dia siapa? Ketika ku tanya kawan-kawanku pun mereka tak tahu. Kala dia ingin maju, “loh siapa kamu?” jawab serentak kaum penggerutu. Di tempat menuntut ilmu ini, sudah lumrah terjadi, gerak sedikit besoknya jadi artis. Sudah biasa, biasa sudah. Tak urung sangka pencitraan terlampau lumrah.

Intinya aku hanya hendak bertanya, kontribusimu apa tuan penguasa? Berilah kami contoh yang baik, yang selalu kau kumandangan dengan label mahasiswa terdidik. Sudahlah, kita ngopi saja. Aceh Gayo dan Papua Wamena cocok untuk diseduh sambil bercakap mesra. Aku tak butuh kursi, kursi cuma sebatas kursi, cuma bisa bikin orang menganggapmu punya otoritas sendiri. Aku tak butuh itu. Yang aku butuh adalah kamu. Kamu ceritakan soal agendamu, aku mendengar dan menambah ilmu. Buat ku terapkan? Tidak, kawan! Cuma ku jadikan acuan suatu pola kejadian. Tak munafik lah pasti aku mau nyari untungnya. Ya, ku ambil yang baik dan cocok saja. Sisanya ya biar kau tanggung sebagai yang punya acara. Kawan, ini bukan ajang merendahkan. Ini tak cuma tertuju padamu, Teman. Ini untuk semua yang punya agenda berbeda dibelakang rencana yang tertera. Dan juga untuk ku sendiri, salah satunya.

Tulisan ini adalah opini, tak perlu kau anggap menista itu menista ini. Karena aku tak bicara soal yang semegah itu kuasanya. Kau boleh masuk kaum mana saja, boleh pula anti padanya, biar aku yang jadi netral ya. Aku lebih suka bercengkrama tanpa doktrin si B ataupun si A. Sebuah kegilaan kekuasaan yang diwariskan. Sebuah mekanisme terkenal secara karbitan. Sebuah kaderisasi zaman.

Citramu mungkin hebat bermahkotakan emas berkarat, tapi yang kau citrakan tak selalu sama dengan kenyataan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s