Senja Bersabda

Wahai sepertiga malam yang selalu kunikmati, hadirmu selalu diawali oleh datangnya senja hari. Waktu terdahsyat untuk mencari inspirasi. Waktu terhebat untuk merenung dan berekspresi. Senja selalu berada pada puncak rasa gila, melonjaknya endorfin dan adrenalin yang tiba-tiba. Tak kusangka aku mampu tersadar, dari linglungku yang samar-samar. Seperti mengajakku untuk berkelahi, melawan ego dalam diri. Oh nikmatnya, terluap semua di satu masa.

Kala itu aku mencoba menggarisbawahi langit gelap. Berharap kelak bintang akan lelah dan hinggap. Dari sana akan kucabangkan cita-cita. Bahwa asa tak harus sekecil biji semangka. Dia harus mampu bercabang banyak. Mampu berakar dan beranak pinak. Lalu kelak cita-cita itu akan menghasilkan benih baru. Sebuah warisan yang tak semurah kekayaan semu. Aku jelas tak mau jadi pengejar harapan. Aku empunya, aku membuat apa yang aku suka. Tentu dengan selayak dan sepantasnya. Tak mau pula aku menggengsikan diri. Harus begitu harus begini. Aku tak serepot itu, karena kesempurnaan bukan hal yang aku tuju.

Senja telah bersabda, seperti apa yang kau telah baca. Lupa? Tengok kembali di atas sana. Aku selalu ragu bukan karena aku tak mampu. Tapi karena senja pernah mengajarkan ku: ragumu karena terlalu peduli pada orang lain lebih bermanfaat daripada yakinmu yang cuma untuk diri sendiri. Ya, aku tak mau jadi individualis garis keras. Mereka orang sakit, yang hidup hanya untuk kesenangan dan duit. Modal mereka cuma yakin, quote motivasi dan ego diri. Tak mau aku, aku tak sudi. Biar kelak senja yang menghakimi mereka. Sebijak senja yang pernah bersabda.

Kulayangkan cita pada sepucuk prasangka di kala senja terpaksa tiba 

Pancasila

Yang tersisa,
Cair merah muda
Bercampurkan darah dan air mata

Negeri ini,
Sedang dicobai
Bernanahkan perih, bertahtakan sedih

Pancasila ku,
Pancasila mu,
Pancasila kita,
Oh… Bhineka Tunggal Ika

Turunkan mukjizat,
Persembahkan rahmat
Selamat ulang tahun Pancasila ku yang keramat

(Hari Lahirnya Pancasila tahun 2017)