Lagu Baru

Akhirnya

Setelah sekian lama

Bikin lagu baru juga

Ah, udah jadi kok. Tapi link soundcloud nya kapan kapan aja. Dan ini lagu ga salah sasaran, ini lagu buat kamu doang kok, beneran

Judulnya: Temani Aku

Bila waktu akan kembali ku harap kau temani. Laguku kan selalu menggema untukmu.

Advertisements

Teman Berbagi

Bisa terhitung, untuk yang ke 7 kali, aku ragu untuk memulai kembali. Seperti bisik yang dulu ada sekarang hilang, rasa rasanya aku sudah mulai berpengalaman. Sudah tahu, sudah bisa membaca waktu. Tapi, layaknya ragu ku yang selalu beraksi, aku ingin mencari sebuah komparasi. Hanya saja, tak ada. Sebenarnya ada, tapi yang ada itu ragu dan tak bisa. Bila diijinkan untuk dilaksanakan, kan ku bersyukur, berterimakasih. Kenapa? Karena saat ini, aku butuh teman berbagi.

Tak ku coba jadi munafik, karena bagiku, jadi pendosa yang jujur jauh lebih asik

Telat Peka

Jujur saja, baru sore ini aku pahami. Ada sebuah salah sangka nampaknya. Atau kebetulan saja? Entah, aku hanya akan sedikit bercerita dalam perasaan was-was sedikit resah.

Lama tak ku tulis cerita, cerita baru, di blog ini. Mungkin terakhir ketika belum magang di Jogja. Sudah sudah, bukan itu yang ingin aku bicarakan. Jadi begini, agak berat hati aku tulis hal yang seharusnya ku simpan sendiri. Masalahnya aku masih tak habis pikir, jika cuma kebetulan seharusnya tak sesempurna ini.

Singkat saja kisahnya, nampaknya aku menambah dosa, atau hanya feeling ku saja. Beberapa waktu yang lalu, aku menyindir seorang perempuanku, perempuan yang menemani aku ngecrew, manggung, bahkan ketika aku kerja di studio rekaman di perbatasan kota Batu – Malang. Perempuan itu sebut saja “Nona”. Sesosok perempuan yang sudah 2 bulan ini kami jalan. Ah, dia ini penikmat musik indie, dan pula penulis puisi soal isi hati. Istilahnya curhat dengan tulisan yang berkenikmatan. Jauh sebelum ku jadikan dia perempuanku, ada hal yang ia ucap, “Nanti, satu puisi soal kamu dari sudut pandang seorang aku bakalan muncul di mading pers kampusku.” Begitu katanya kala itu. Yang ku sebut jauh sebenarnya tak jauh juga, karena kami hanya kenalan 3 minggu sebelum jalan. Ya otomatis 3 Minggu langsung jadian. Cepat kan? Tidak juga, karena waktu itu jarang aku bisa tidur lebih dari 4 jam lamanya, makanya terasa lama. Lalu apa yang kau ceritakan sebenarnya, ha? Sabar, lanjut ke paragraf yang lebih mendalam.

Tak lama dari tulisan ku ini, ku buat sindiran di IG Stories, agar kelak ia baca yang mana selalu dia yang muncul di penonton paling atas. Tak ku kira, sibuknya dia yang memang seorang aktivis baru sepertinya masih membuat sadarnya beku. Tenang saja, ia tak tahu perihal blog ini, jadi tulisan ku ini bukan menjadi pengingat yang kedua kali. Mungkin efek mahasiswa baru masih waktunya berkecimpung dengan alam baru, ku biarkan saja, aku dulu juga seperti dia. Sebenarnya, sembari menunggu puisi dari dia, yang katanya akan panjang baitnya, ada tulisan yang membuat ku sedikit terhibur tak semestinya. Karena aku pun lupa, ada perempuan lain yang berkata akan menulis sesuatu tentang aku. Ya kagetnya aku karena seakan terngiang di pikiran kalo sindiranku salah sasaran. Maaf kan, tapi terimakasih karena tulisan itu cukup menenangkan perasaan, tak ada embel-embel basa-basi disana, aku suka. Tapi sekaligus maaf, karena tingkahku setelah tahu sepertinya kurang memuaskan, cenderung heran. Ya karena aku belum sadar tentang prasangka ku ini. Untuk Nona yang sudah meluangkan waktu dalam seninya itu, semoga kalo kamu baca, jangan marah ya, pahami aja, aku memang telat peka. Jangan hapus tulisan mu itu, biar bisa ku baca setiap aku ada waktu.

Sebagai penutup, aku cuma bisa bilang kalo alfabet ke 10 itu bukan cuma milik 1 orang.

Akan ada waktunya dimana hidup itu tentang memahami sesama, bukan sekedar mau menerima.