Akhir Juli

Semakin mendekati deadline, semakin seperti berasa ini benar-benar dead-line. Sepertinya, kisah klasik di kota Malang akan berhenti cukup di sini aja. Melihat kondisi macam gini, akan lebih bijak buat ikhlas. Ikhlas menyiakan hidup, ikhlas menyiakan uang, ikhlas menyiakan waktu, bahkan ikhlas menyiakan sehat.

Empat tahun, genap empat tahun yang lalu awal menginjakkan kaki di Malang. Modal nekat dan modal otak di dengkul, kesana, tanpa uang pegangan, tanpa rumah buat dijadikan penginapan. Dua pria, satu masih belum kepala dua, satunya lagi sudah setengah abad usianya. Malang mungkin tak cukup nyaman buat ditinggali, tapi orangnya, ilmunya, kenangannya, tak bisa dipungkiri sangat membekas. Bahkan bisa dibilang kota Malang adalah kota dimana aku menjadi aku. Dimana aku menjadi pria yang seperti ini, menjadi diri sendiri. Tapi, kalau pun kisah klasik di Malang berakhir disini, aku sudah cukup tak peduli.

Kau tahu kenapa aku sudah seakan terbiasa dibawah tekanan seperti ini? Karena aku tahu, aku sadar diri, dan aku sudah mulai bodoamat dengan segala masalah yang menjerat. Cuma karena 1 orang, 4 tahun ku sia-sia. Itu jika aku memang sudah berhenti mengusahakannya. Pun karena aku sadar, umurku sudah terbilang tua, bukan waktunya berpangku tangan. Karena itu, jika aku memaksakan, hasilnya aku malah jadi benalu, yang tak malu, yang tak sadar bahwa ia kelewat busuk. Mengenaskan adalah apa yang sebulan ini aku pikirkan. Bukan soal masa depanku, tapi soal perspektif orang yang mengenalku. Terutama mereka yang sedari awal mula sudah percaya aku bisa menuntaskannya. Tapi, lihat lagi. Aku punya waktu untuk membuat hal yang sedari awal kunantikan terwujud. Hanya saja, aku menyadari banyak faktor yang membuatku tersendat bahkan hampir tak bisa. Semua berakar pada mereka yang ada disekitar. Bukan, bukan mereka yang membuatku terhenti, tapi cuma 1 orang itu yang membuatku tak berdaya. Orang disekitar tentu sangat mendukung, tapi dalam sebuah lingkaran, tiap orang berada pada radius yang berbeda. Orang yang radiusnya paling dekat dengan hidupku adalah mereka yang membuatku kepikiran. Aku sudah tua, dan jadi benalu bukanlah apa yang aku pinta.

Penyesalan mungkin datang, tapi soal kelar itu bukan yang aku masalahkan. Yang menjadi poin utamaku hanya waktu yang 4 tahun kubuang dari slot waktu bersama keluargaku, terutama bapak. Seakan aku gagal jadi seorang anak, sekarang aku gagal lagi jadi seorang yang menuntaskan mimpinya pula. Kakakku gagal, aku juga. Tapi kakakku bukanlah orang yang segelap aku. Kau tahu? Cuma aku yang selalu diusahakan bisa. Karena selain aku yang katanya ajaib persoal “keberuntungan” dimana aku sering memberi kejutan bisa kesana kesini masuk itu ini jadi ini itu, aku satu-satunya yang ayahku percaya bisa menjadi pilar utama. Ibarat aku sekarang dibantu saudaraku, sepupu, dan lainnya, nanti aku yang bertugas membantu mereka secara lebih besar dan lebih luas.

Selama lebih dari 5 bulan belakangan, aku ingin bilang bahwa aku kesepian. Temanku banyak, hiburanku banyak. Bukan kesepian soal itu yang kumaksud. Tetapi kesepian soal tujuan. Orang melihatku seperti sibuk, dan memang, tapi sesibuk apapun seseorang, ketika ia tak punya tujuan, yang ia rasa tetaplah suatu ketiadaan.

Jika berkata soal hidup yang berarti adalah hidup yang berdampak positif bagi orang lain, kujawab dengan jujur lebih banyak negatif daripada positif yang kuhantarkan pada masing-masing jiwa itu. Mungkin, jika dosa itu memang berkaitan dengan karma, dan jika kedua hal itu benar adanya, ini adalah apa yang sewajibnya aku bayar untuk melunasinya. Lucunya adalah aku lebih doyan menyimpan segala carut marut besar sendirian, sementara yang kubagikan kepada kawan hanyalah masalah sepele saja, bahkan ke oranh terdekatpun.

Jika benar ini akhir, maka aku awali kenyataan ini dengan sebuah penyesalan yang semua kutujukan kepada ayahku, bapakku, pria yang bahkan sampai akhir detiknya cuma kepikiran “ini gimana ya buat Nanda”. Dan penyesalan itu kububuhi fakta bahwa aku kala itu benar-benar tak tahu apa-apa bahkan tak ada disana.

Aku ini anak macam apa?

Mungkin, akhir Juli ini juga akhir dari segala cerita…

Advertisements

Tetua

Ayo mas ikut aja, kan bapak kamu dulu yang megang area kota ini. Gimana? Cuma puasa 7 bulan full doang kok, bisa kan ya?

Cuma…