Senja Bersabda

Wahai sepertiga malam yang selalu kunikmati, hadirmu selalu diawali oleh datangnya senja hari. Waktu terdahsyat untuk mencari inspirasi. Waktu terhebat untuk merenung dan berekspresi. Senja selalu berada pada puncak rasa gila, melonjaknya endorfin dan adrenalin yang tiba-tiba. Tak kusangka aku mampu tersadar, dari linglungku yang samar-samar. Seperti mengajakku untuk berkelahi, melawan ego dalam diri. Oh nikmatnya, terluap semua di satu masa.

Kala itu aku mencoba menggarisbawahi langit gelap. Berharap kelak bintang akan lelah dan hinggap. Dari sana akan kucabangkan cita-cita. Bahwa asa tak harus sekecil biji semangka. Dia harus mampu bercabang banyak. Mampu berakar dan beranak pinak. Lalu kelak cita-cita itu akan menghasilkan benih baru. Sebuah warisan yang tak semurah kekayaan semu. Aku jelas tak mau jadi pengejar harapan. Aku empunya, aku membuat apa yang aku suka. Tentu dengan selayak dan sepantasnya. Tak mau pula aku menggengsikan diri. Harus begitu harus begini. Aku tak serepot itu, karena kesempurnaan bukan hal yang aku tuju.

Senja telah bersabda, seperti apa yang kau telah baca. Lupa? Tengok kembali di atas sana. Aku selalu ragu bukan karena aku tak mampu. Tapi karena senja pernah mengajarkan ku: ragumu karena terlalu peduli pada orang lain lebih bermanfaat daripada yakinmu yang cuma untuk diri sendiri. Ya, aku tak mau jadi individualis garis keras. Mereka orang sakit, yang hidup hanya untuk kesenangan dan duit. Modal mereka cuma yakin, quote motivasi dan ego diri. Tak mau aku, aku tak sudi. Biar kelak senja yang menghakimi mereka. Sebijak senja yang pernah bersabda.

Kulayangkan cita pada sepucuk prasangka di kala senja terpaksa tiba 

Jogja, Tunggu Hamba

Ga kayak biasanya, menulis postingan dengan penuh kebugaran raga. Kali ini sedikit loyo banyak meriangnya. Lama banget ga ke kota satu ini, kota Jogja, kota seni. Padahal ya rumah sama kota ini ga terlalu jauh. Masalahnya adalah aku lagi ga di rumah, tapi ngerantau di bagian hampir pojok timur pulau Jawa. Kebetulan aja, abis kelar UAS, ada kesempatan buat 2 bulan disana. Dan aku udah ngerasa bakalan bikin terobosan baru di kota itu. Tentu sama partner musik ku. We love Folks music and their taste of Folks is totally at the top of the chart. Nah disitu mulai ada kepinginan nyoba buka jalan. Yap betul babat belukar dan keluar dari zona nyaman.

Oh iya, kenalin juga ya, partnerku yang bisa dibilang skillnya dewa. Jauh lah dia diatas sana sementara yang nulis pos masih kelas rendahan haha. Ya udah banyak komposisi kami lalui bareng. Mulai dari akustik rock, deathcore hardrock, dan jazz folks. Lebih dari itu sih, banyak, punk udah, blues pernah, dan semua berasa kurang nyatu, banget, kecuali kalo kami cuma main berdua. Ya, jadi banyakan project gagal karena cuma main di band dan biasanya ngisi acara acara kampus aja tapi latiannya jarang. Yang setara universitas dulu udah, komposisi sama paling ganti penyanyinya. Di fakultas udah, jurusan apa lagi, bahkan yang acara umum pernah sekali jadi pengisi. Dan project yang mungkin bakalan gagal lagi ya konsep progresif rock yang dibikin awal tahun ini.

Cerita punya cerita, yang tetap langgeng dan banyak ditanya “Kapan latian lagi kalian?” ya pas aku sama dia doang. Berdua akustikan. Bawain lagunya Payung Teduh, Efek Rumah Kaca, Danilla, intinya lagu yang indie lah ya. Semua berasa kayak ini satu-satunya tipe lagu yang kami bawainnya nyatu. Dan desas desus pun terbuka lebar, emang kalo main musik tapi ga bisa catching feels bareng itu jadi ga nyaman. Gantung dan bikin ga “edan”. Ya mau gimana, tipe pemusik kan beda-beda, selera bisa mirip tapi ga sama. Dan komunikasi itu yang paling susah.

Begitulah, curhatan kali ini kok agak melenceng dari judul ya. Tak apa lah yang penting pas di Jogja, usaha! Ada kesempatan sambil magang KKN ya dimanfaatkan sebaik mungkin. Cari banyak channel, main banyak musik di luar, menggila di jalanan kali aja ada yang ngelirik terus ngajak kenalan. Ok, yang terakhir itu lupakan. Jogja, tunggu kami ya. Berikan kami pengalaman yang sangat berguna bagi masa depan, terutama musik dan seni. Sekian.

Nikmatnya seni hanya bisa terealisasi dengan mengapresiasi, semakin terbuka, semakin kaya manfaatnya

Bekal Kehidupan

Sejak masuk kampus, di awal-awal, terlabeli dengan mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Entah kenapa waktu itu datang ke kampus bawa laptop, belajar sambil wifi-an, terus pulang adalah hal yang sangat menyenangkan. Ya, lama kelamaan bosan juga raga ini. Begitu lagi, begitu lagi. 

Masuk semester 2, memberanikan diri berorganisasi, masuklah ke UKM Band di kampus ini. Niatnya cuma karena musik. Disitu juga mulai aktif acara Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) di Fakultas yang selalu diidentikkan dengan keluarga kedua. Saat itu juga agak aktif di UKM Kerohanian Katolik meskipun ga religius sama sekali. Ya namanya ingin berubah dan berkembang harus mau keluar dari zona nyaman.

Singkat cerita, kala itu ikut banyak kepanitian. Bahkan tak jarang yang double beberapa kepanitiaan diwaktu yang sama. Bukan karena gimana, tapi karena rasanya enak aja jadi banyak yang dipikirin dan dilakuin. Banyak kenal orang baru, dan ga gabut, sayangnya akademik jadi terganggu karena aku bukan orang yang terlalu akademisi.

Setelah banyak berkecimpung di dunia UKM yang setara lingkungan universitas, ada kejenuhan karena orang-orang yang terkena dampaknya terlalu luas tapi efeknya lemah. Semua yang dilakukan untuk UKM ku sebut pelayanan, jadi tak ada penyesalan. Baru setelahnya, sekitar semester 3 akhir, berkumpulah aku bersama orang-orang baru. Orang-orang yang bisa dibilang urakan, ga niat kuliah dan sebagainya, padahal mereka ini kuliah dengan cara yang berbeda dari para akademisi diluar sana. Dan anehnya, aku sama seperti mereka…

Orang-orang ini selalu berdiskusi, tentang hal yang sepele kayak rokok, pacar, hutang (iya ini ada), sampe hal yang berat kayak PTNBH, gerakan mahasiswa, politik kampus dan semacamnya. Disinilah aku merasa nyaman, bahwa bukan cuma aku yang jenuh akan pembahasan murahan. Disini tak ada yang mengikat, ga cuma bahas game mulu, ga cuma bahas nilai mulu. Dari situlah mulai merasakan ada hal yang harus diubah, pola pikir.

Semester 3 dan 4 bisa dibilang semester paling jahanam. Kuliah banyak, praktikum, project akhir, sampe kepanitiaan yang bisa numpuk. Mungkin waktu itu udah 12 kepanitian yang aku ikuti. Karena sampe saat ini ada 18 kepanitiian, sisanya kegiatan-kegiatan UKM, Fakultas dan Himpunan. Masa-masa di UKM diakhiri kala semester 4. Baru setelahnya, gegara sering diskusi yang kebanyakan bahas permasalahan kampus, terutama fakultas dan jurusan, berlabuhlah aku ranah fakultas dengan aktif disana. Barulah semester 5 jadi bagian yang mengurus himpunan jurusan. Di masa itu mulai banyak wawasan baru tentang permasalahan kampus, cara buat nanganin kondisi ini itu, politik, musik dan hal-hal yang bikin aku ngerasa ini nih yang namanya kuliah. Semakin banyak debat dan diskusi yang dialami, semakin merasa haus untuk menggali ilmu-ilmu anti mainstream. Sampai pada saatnya ikut diskusi soal agnostik, atheis dan theis, diskusi soal permasalahan ini itu termasuk soal demo akan kebijakan kampus. Disitu pula mendapatkan pencerahan bahwa negara butuh pejuang.

Begitulah sampai detik tulisan ini dibuat, yaitu akhir semester 6. Banyak hal yang sudah didapat dan dilakukan. Termasuk musik yang bisa aku bilang jauh berkembang. Semakin merasakan nikmatnya kehidupan perkuliahan yang ga sekedar akademisi. Tapi… setelah demisioner dari himpunan, setelah tuntas semua tanggung jawab di kepanitiaan, aku ingin istirahat. Berhenti sejenak dari kesibukan itu. Karena lagi-lagi aku jenuh. Jenuh bukan karena bosan, tapi karena hal itu sudah jadi rutinitasku hampir 3 tahun ini. Aku sudah mulai berpikir tentang kedepannya mau jadi apa, mau gimana. Mulai kembali berpikir tentang passion, tentang gimana sukses sesuai keinginan, tentang cara menjadi orang yang berguna dan ga sekedar jadi orang pada umumnya. Makanya aku mencoba hal yang baru. Aku udah terlalu nyaman di organisasi dan kepanitiaan. Dan sama seperti yang diawal aku bilang, kita butuh keluar dari zona nyaman untuk berkembang.

Sebelumnya, aku berterimakasih semua hal itu udah menjadi bekal dan proses pendewasaan yang menyenangkan. Terimakasih telah memberikan kenikmatan di masa-masa perkuliahan. Sekarang aku mau bereksperimen untuk hal yang baru. Pasti akan ada yang janggal setelah sekian lama aktif ini itu, tapi sekarang juga bakalan tetap aktif kok, hanya berbeda jalan saja. Tujuannya sama, sukses. Tenang saja. Gondrong (saat tulisan ini dibuat) tetaplah Gondrong yang kalian kenal. Selalu ada untuk diskusi, selalu ada untuk berbagi cerita. Kita hanya berbeda poros saja, ideologi tetap sama. Merdeka!

Tak nampak tak berarti tak gerak. Kasat mata tak kasat rasa

Sebuah Kaderisasi Zaman

Lupa aku cara menggoreskan tinta yang terurai diujung pena. Sepersekian detik gagasan yang aku siapkan, lenyap dalam satu kali kedipan. Ku tengok lagi timeline Instagram sore ini. Ku lihat sesosok yang tak terlalu ku kenal, tapi terkenal. Yang tak tau aku apa jasanya, tapi dia punya dampak yang luar biasa. Ku buka profil itu, dua ribu, angka yang tertera pada bagian jumlah pengikut. Dia siapa? Baunya di area ini, lingkup terkecil yang seharusnya dia pijaki, tak ada, sedikitpun tak ada!

Okelah dia punya kuasa diatas sana, diranah yang lebih tinggi dari aku biasa berpropaganda. Yang jangkauannya lebih tinggi satu tingkat dari apa yang pernah aku dapat. Tapi… dia siapa? Ketika ku tanya kawan-kawanku pun mereka tak tahu. Kala dia ingin maju, “loh siapa kamu?” jawab serentak kaum penggerutu. Di tempat menuntut ilmu ini, sudah lumrah terjadi, gerak sedikit besoknya jadi artis. Sudah biasa, biasa sudah. Tak urung sangka pencitraan terlampau lumrah.

Intinya aku hanya hendak bertanya, kontribusimu apa tuan penguasa? Berilah kami contoh yang baik, yang selalu kau kumandangan dengan label mahasiswa terdidik. Sudahlah, kita ngopi saja. Aceh Gayo dan Papua Wamena cocok untuk diseduh sambil bercakap mesra. Aku tak butuh kursi, kursi cuma sebatas kursi, cuma bisa bikin orang menganggapmu punya otoritas sendiri. Aku tak butuh itu. Yang aku butuh adalah kamu. Kamu ceritakan soal agendamu, aku mendengar dan menambah ilmu. Buat ku terapkan? Tidak, kawan! Cuma ku jadikan acuan suatu pola kejadian. Tak munafik lah pasti aku mau nyari untungnya. Ya, ku ambil yang baik dan cocok saja. Sisanya ya biar kau tanggung sebagai yang punya acara. Kawan, ini bukan ajang merendahkan. Ini tak cuma tertuju padamu, Teman. Ini untuk semua yang punya agenda berbeda dibelakang rencana yang tertera. Dan juga untuk ku sendiri, salah satunya.

Tulisan ini adalah opini, tak perlu kau anggap menista itu menista ini. Karena aku tak bicara soal yang semegah itu kuasanya. Kau boleh masuk kaum mana saja, boleh pula anti padanya, biar aku yang jadi netral ya. Aku lebih suka bercengkrama tanpa doktrin si B ataupun si A. Sebuah kegilaan kekuasaan yang diwariskan. Sebuah mekanisme terkenal secara karbitan. Sebuah kaderisasi zaman.

Citramu mungkin hebat bermahkotakan emas berkarat, tapi yang kau citrakan tak selalu sama dengan kenyataan

Tidur Yang Selayaknya

Udah jadi kebiasaan jelek yang namanya tidur teratur. Sebelum jam 3 pagi rasanya kelopak mata ga mau menutupi isinya. Bangun pun nanti siang, kadang ga tidur kalo ada kuliah jam 7, trauma males bangun. Paham kok kenapa, masalahnya buat maksain tidur itu ga bisa. Ga semudah bikin essay tentang kontribusi kepada kawan.

Pengen banget rasanya punya pola tidur normal, yang seenggaknya jam 12 an lah udah bisa tidur dikamar. Benar yang orang bilang, bisa karena terbiasa. Dan ini ngga baik sama sekali. Badan yang ngasih bukti. Dicoba fokus merem, otak isinya dugem. Mikir ini mikir itu. Banyak mikir pas niat tidur. Tapi jarang mikir pas melek-meleknya.

Yah… kali ini cuma singkat. Dikemas biar kayak curhat. Padahal sih ini sebagian kecil fase halus dari rasa pengen mengumpat. Kangen tidur yang selayaknya, istirahat yang bisa nyegerin semuanya.

Tidurlah, malam yang hampir pagi menyuruhmu merebah. Buang masalahmu, lalu mimpikan aku

Secangkir Kopi Hitam

Sore itu, seperti biasanya, aku menikmati senja sambil duduk santai di pagar rumah. Gemericik air sungai yang sedari kecil menemani aku selalu menjadi kesejukan tersendiri dikala penat seharian penuh. Aku hanya duduk disana, sendiri diantara keramaian yang sepi. Ingat aku kala gerimis membawa suasana yang sedikit sadis. Menuju senja tiba, tak berhenti jua tetesnya… 

Dengan mataku yang sedikit rabun kupandangi pohon rambutan di seberang sana. Yang dari dulu biasa kuambil buahnya tanpa bilang ke yang punya. Tapi, senja itu tak lagi sama. Tak lagi terisi oleh celoteh garing orang yang dulu membuat kami dihitung tiga. Sekarang? Dua! Dingin kala itu membuatku ingin yang hangat hangat, yang sebisa mungkin dibalut pekat. Dan terjadilah pada akhirnya, ku buat kopi pada cangkir besar yang merah tua.

Kopi ini, kuminum sejak aku belum sekolah, sebelum TK malah. Kopi yang sama seperti 17 tahun silam. Kopi berlogo kapal yang bercampur merah hitam. Kopi yang dulu kita minum bertiga hampir disetiap penghujung senja…

Kopi ini… saksi perjamuan abadi…

Getir yang terkecap dalam pekat sedahsyat penyesalan yang selalu hadir paling telat

Teruntuk Wanita Penulis Sajak

Hai nona penulis sajak…

Aku pengagummu. Aku penikmat sari senimu. Tetaplah menulis dan berekspresi karena mungkin itulah jalanmu nanti. Jalan yang selalu kau tanyakan pada Bumi. Jangan ragu pada karyamu, karena aku, salah satu saksi keindahan itu. Biarkan aku menengokmu dari luar pagar. Dari batas yang selalu kau garis tiap kali aku mencoba menyapa manis.

Dengar ini nona si penulis sajak. Ijinkan aku setidaknya tetap bernafas bersama lega. Rasa yang sama saat kau curahkan emosi dalam setiap penggalan kata. Percaya aku, percayalah. Yang kau tuang itu sangat indah. Hal yang lama tak ku jumpa pada buku-buku berlabel karya sastra. Sebenarnya ingin aku mengusap tangismu. Langung, tanpa tisue. Ingin pula aku menculikmu, membawamu pergi dari kelammu. Namun aku tak yakin, takut aku jadi kelammu yang lain.

Nona, kita sama-sama tahu, seni bukan untuk dikomersialisasi. Tapi, tak ada salahnya kau biarkan dunia merasakannya, menikmati setiap tuturmu yang apa adanya. Cukup kau saja yang tau, kelak yang kau tulis akan jadi alasan kau mampu tersenyum manis. Ijinkan egomu pudar, lalu peluk dunia dengan tegar.

Nona, lahirmu bulan ke-7 kan ya?

Semua jerih dan lelah akan menjadikanmu sejarah

Cerita Tentang Si Hitam dan Sang Putih

Aku awali cerita singkat ini dengan sejumlah kata kunci: hitam, putih, kedewasaan, hubungan, keyakinan. Bagiku Hitam tak melulu soal yang jahat, tak selalu soal dosa yang teramat amat. Sedangkan Putih tak berarti suci, tak selamanya tentang kebersihan hati nurani. Disini, Hitam adalah aku, sembari Putih adalah kamu.

Inget ga dulu jaman-jaman awal kamu suka broadcasting? Iya Putih, kamu pernah suka itu. Aku cuma ngingetin, dulu pas kita kerja bareng aku sempet keringat dingin. Ya ga separah itu juga, cuma kadang terlalu mengapresiasi pesona adalah kesalahan paling pertama. Singkat cerita itu adalah sebuah acara jalan santai yang ga bikin santai. Seenggaknya tetep ada sedikit kebahagiaan yang terselip disela kesibukan. Dulu itu kita kayak sepasang remaja goblok. Sang Putih curhat, si Hitam mendengarkan dan begitupun sebaliknya. Tapi, meski tanpa status, kalo udah marahan kayak perang aja harus nyusun strategi sesuai kapasitas kesadaran diri. Hal yang susah untuk dihilangkan salah satunya adalah kemampuan Sang Putih yang bisa baca pikiran. Bisa sealot itu ngasih statement dan bisa tau langsung apa yang dimau. Mungkin sebuah hal yang unik itu yang bikin dulu sempet luluh sama kamu. Hal yang ga biasanya aku bisa terima tapi entah ada tenaga tak kasat mata yang terus bilang harus bisa. Dan kita pernah sedekat itu, sedekat kelopak bunga bersama embun.

Tapi tidak lagi…

Bukan berarti kita jauh, bukan. Kita cuma jarang dapat dianalogikan lewat sebuah perjumpaan. Hal yang selalu kita bahas adalah hal-hal diluar nalar, sesuatu yang ga cuma “kamu udah makan?”. Bahkan aku ga inget kita pernah nanya hal kayak gitu. Tiga kata kunci sudah aku bahas, Hitam, Putih, Hubungan. Dua sisanya mau dibahas gimana? Katanya cuma cerita singkat jadi ya… udah.

Kedewasaan adalah sebuah sikap yang berisi kemampuan untuk sadar akan diri, lalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan kesadaran itu sendiri. Dewasa bukan berarti harus bijak, berwibawa atau apapun itu yang biasanya disandangkan ke manusia yang sudah tua. Dan kita, pernah mengakui bahwasanya saling dewasa, saling punya sifat dan sikap yang bisa ditanggung dan dijawab. Tapi… kita masih saja kala itu dibungkus oleh fisik remaja, dikontrol oleh naluri berhura-hura, lalu dibawa kedalam beribu nuansa suasana. Tidak apa-apa, toh itu yang dinamakan rasa.

Seiring berjalannya waktu, lelaki ini itu masuk di harianmu, begitu pula perempuan ini itu masuk di harianku. Bukan berarti kita tak komitmen, hanya saja kita ga pernah bahas soal komitmen itu. Semuanya kayak lisan tak tertulis. Dan… berujung tak manis. Keyakinan adalah hak manusia, tanpa paksaan, tanpa dorongan, tanpa embel-embel golongan. Dan disini si Hitam dan Sang Putih tak mau menyalahkan keyakinan. Mereka cuma tak mau hubungan dijadikan mainan yang bisa berdampak besar di masa depan. Sampai di titik itu, si Hitam dan Sang Putih tetap bersatu, menjadi sebuah hubungan yang saling sama-sama tahu. Dari sana pula si Hitam mendapatkan lega, bahwa yang diperjuangkan tak selamanya berakhir menang. Dan dengan cara-cara seperti itu lah si Hitam dan Sang Putih berkembang.

Kita belajar tentang mengikhlaskan yang tak seharusnya dipaksakan

Belum Genap 21

Pak…

Sekitar sebulan lagi aku ulang tahun. Sebuah tanggal yang mungkin keluarga kita lupa karena jarang  dan hampir tak pernah merayakannya.

Pak…

Aku juga sedari kecil tak tahu tanggal lahirmu, tanggal yang seharusnya bisa ku rayakan entah pada 25, 50 ataupun ketika selayaknya itu. Tapi sekarang aku tahu setelah melihat KTP pada dompet kulitmu yang umurnya lebih tua dari aku.

Pak…

Aku lupa mau bilang kalau aku cinta Bapak, kalo aku sayang Bapak dan selalu berdoa sejak SMP mengucap mantra “Bapak sehat terus, hidup terus sampai 100 tahun lebih”. Dan mantra itu pula  yang aku ucapkan diakhir ketidakjelasan sembari tersedu disudut kamar kosan.

Pak…

Jumpa fisik terakhir kita sebelum aku semester 5. Disitu Bapak sendiri, duduk di kursi, terlihat jelas menahan sakit. Setelah aku ke kota orang mencari ilmu, tumben tak ada kabar darimu. Tak ada telfon yang dulu kau coba selipkan diujung malam atas kesadaranmu akan sibukku yang berketerusan. Dan telfon terakhir tentangmu adalah sebuah rasa kegundahan paling tertahan karena suara- suara itu bukan dari mulutmu. Melainkan suara banyak orang yang bergantian menanyakan kabarku dan menanyakan bisakah ku pulang malam itu.

Pak…

Aku tau aku bukan anak yang baik. Gagal sebagai seorang putra. Katamu dulu aku lah tombak keluarga, makanya kau banting tulang membuatku bisa sekolah disini, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Itu tidak sia-sia. Ku harap aku bisa menyelesaikan sisanya, meski aku tahu fisikmu tak akan ada disana, saat berdiri disampingku kala aku sah sarjana.

Pak…

Waktu aku melihat rumah baru mu, aku hanya bisa berterimakasih telah menjadi yang terbaik dalam hidup meski saat itu umurku belum genap 21.

Pak…

Di atas sana, titipkan maaf dan salam ku pada Ibu juga, ya?