Teruntuk Wanita Penulis Sajak

Hai nona penulis sajak…

Aku pengagummu. Aku penikmat sari senimu. Tetaplah menulis dan berekspresi karena mungkin itulah jalanmu nanti. Jalan yang selalu kau tanyakan pada Bumi. Jangan ragu pada karyamu, karena aku, salah satu saksi keindahan itu. Biarkan aku menengokmu dari luar pagar. Dari batas yang selalu kau garis tiap kali aku mencoba menyapa manis.

Dengar ini nona si penulis sajak. Ijinkan aku setidaknya tetap bernafas bersama lega. Rasa yang sama saat kau curahkan emosi dalam setiap penggalan kata. Percaya aku, percayalah. Yang kau tuang itu sangat indah. Hal yang lama tak ku jumpa pada buku-buku berlabel karya sastra. Sebenarnya ingin aku mengusap tangismu. Langung, tanpa tisue. Ingin pula aku menculikmu, membawamu pergi dari kelammu. Namun aku tak yakin, takut aku jadi kelammu yang lain.

Nona, kita sama-sama tahu, seni bukan untuk dikomersialisasi. Tapi, tak ada salahnya kau biarkan dunia merasakannya, menikmati setiap tuturmu yang apa adanya. Cukup kau saja yang tau, kelak yang kau tulis akan jadi alasan kau mampu tersenyum manis. Ijinkan egomu pudar, lalu peluk dunia dengan tegar.

Nona, lahirmu bulan ke-7 kan ya?

Semua jerih dan lelah akan menjadikanmu sejarah

Berdialog Dengan Tembok

Di sudut kamar kosan ini
Gitarku bersandar pada cat yang pudar
Laba-laba diatasnya melambai mesra
Ya… mereka menyapaku dalam tawa

Bidang datar tembok tanpa gambar
Kadang ku jadikan teman
Kala paras paras manusia penuh drama
Satupun tak mampu kokohkan hatinya

Tak seperti beton tembok ini
Yang dibalut kenangan…
Yang diratap khayalan…
Yang disekap dinginnya malam…

Aku…
Ingin sekali lagi…
Berdialog bersama tembok pagi ini

Bercerita tentang putih abu-abu
Berteriak soal gumam dan gerutu
Bercengkrama akan alfa dan omega
Berdebat perihal theis dan nabinya

Laju Kaki Kaku

Awal mengajarkan tentang kesiapan
Akhir mengajarkan tentang hasil juang
Tapi aku tengah tersesat
Di sepertiga jalan yang tersumbat penat

Lalu terduduk aku ditepi sini
Tengok kanan… tengok kiri…
Sudahkah benar peta yang kubawa?
Atau sudikah aku beranjak tuk bertanya?

Lalu lalang lancang pejalan kaki
Aku sendiri… bingung berpikir…
Datang seorang tua tersenyum menyapa
“Mau kemana kau, nak?” tanyanya

Ku sapa balik sesosok itu
Menengadah keatas menahan malu
“Ingin ke tujuan, bu.” jawabku
Seketika ia balas dengan senyum

Ditunjuknya sebuah gang diujung sana
Dibisikannya tiga kata pada telinga
Bangkit, tatap, dan melangkahlah
Seketika laju kaki kaku ku mulai terarah

Cerita Tentang Si Hitam dan Sang Putih

Aku awali cerita singkat ini dengan sejumlah kata kunci: hitam, putih, kedewasaan, hubungan, keyakinan. Bagiku Hitam tak melulu soal yang jahat, tak selalu soal dosa yang teramat amat. Sedangkan Putih tak berarti suci, tak selamanya tentang kebersihan hati nurani. Disini, Hitam adalah aku, sembari Putih adalah kamu.

Inget ga dulu jaman-jaman awal kamu suka broadcasting? Iya Putih, kamu pernah suka itu. Aku cuma ngingetin, dulu pas kita kerja bareng aku sempet keringat dingin. Ya ga separah itu juga, cuma kadang terlalu mengapresiasi pesona adalah kesalahan paling pertama. Singkat cerita itu adalah sebuah acara jalan santai yang ga bikin santai. Seenggaknya tetep ada sedikit kebahagiaan yang terselip disela kesibukan. Dulu itu kita kayak sepasang remaja goblok. Sang Putih curhat, si Hitam mendengarkan dan begitupun sebaliknya. Tapi, meski tanpa status, kalo udah marahan kayak perang aja harus nyusun strategi sesuai kapasitas kesadaran diri. Hal yang susah untuk dihilangkan salah satunya adalah kemampuan Sang Putih yang bisa baca pikiran. Bisa sealot itu ngasih statement dan bisa tau langsung apa yang dimau. Mungkin sebuah hal yang unik itu yang bikin dulu sempet luluh sama kamu. Hal yang ga biasanya aku bisa terima tapi entah ada tenaga tak kasat mata yang terus bilang harus bisa. Dan kita pernah sedekat itu, sedekat kelopak bunga bersama embun.

Tapi tidak lagi…

Bukan berarti kita jauh, bukan. Kita cuma jarang dapat dianalogikan lewat sebuah perjumpaan. Hal yang selalu kita bahas adalah hal-hal diluar nalar, sesuatu yang ga cuma “kamu udah makan?”. Bahkan aku ga inget kita pernah nanya hal kayak gitu. Tiga kata kunci sudah aku bahas, Hitam, Putih, Hubungan. Dua sisanya mau dibahas gimana? Katanya cuma cerita singkat jadi ya… udah.

Kedewasaan adalah sebuah sikap yang berisi kemampuan untuk sadar akan diri, lalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan kesadaran itu sendiri. Dewasa bukan berarti harus bijak, berwibawa atau apapun itu yang biasanya disandangkan ke manusia yang sudah tua. Dan kita, pernah mengakui bahwasanya saling dewasa, saling punya sifat dan sikap yang bisa ditanggung dan dijawab. Tapi… kita masih saja kala itu dibungkus oleh fisik remaja, dikontrol oleh naluri berhura-hura, lalu dibawa kedalam beribu nuansa suasana. Tidak apa-apa, toh itu yang dinamakan rasa.

Seiring berjalannya waktu, lelaki ini itu masuk di harianmu, begitu pula perempuan ini itu masuk di harianku. Bukan berarti kita tak komitmen, hanya saja kita ga pernah bahas soal komitmen itu. Semuanya kayak lisan tak tertulis. Dan… berujung tak manis. Keyakinan adalah hak manusia, tanpa paksaan, tanpa dorongan, tanpa embel-embel golongan. Dan disini si Hitam dan Sang Putih tak mau menyalahkan keyakinan. Mereka cuma tak mau hubungan dijadikan mainan yang bisa berdampak besar di masa depan. Sampai di titik itu, si Hitam dan Sang Putih tetap bersatu, menjadi sebuah hubungan yang saling sama-sama tahu. Dari sana pula si Hitam mendapatkan lega, bahwa yang diperjuangkan tak selamanya berakhir menang. Dan dengan cara-cara seperti itu lah si Hitam dan Sang Putih berkembang.

Kita belajar tentang mengikhlaskan yang tak seharusnya dipaksakan

Belum Genap 21

Pak…

Sekitar sebulan lagi aku ulang tahun. Sebuah tanggal yang mungkin keluarga kita lupa karena jarang  dan hampir tak pernah merayakannya.

Pak…

Aku juga sedari kecil tak tahu tanggal lahirmu, tanggal yang seharusnya bisa ku rayakan entah pada 25, 50 ataupun ketika selayaknya itu. Tapi sekarang aku tahu setelah melihat KTP pada dompet kulitmu yang umurnya lebih tua dari aku.

Pak…

Aku lupa mau bilang kalau aku cinta Bapak, kalo aku sayang Bapak dan selalu berdoa sejak SMP mengucap mantra “Bapak sehat terus, hidup terus sampai 100 tahun lebih”. Dan mantra itu pula  yang aku ucapkan diakhir ketidakjelasan sembari tersedu disudut kamar kosan.

Pak…

Jumpa fisik terakhir kita sebelum aku semester 5. Disitu Bapak sendiri, duduk di kursi, terlihat jelas menahan sakit. Setelah aku ke kota orang mencari ilmu, tumben tak ada kabar darimu. Tak ada telfon yang dulu kau coba selipkan diujung malam atas kesadaranmu akan sibukku yang berketerusan. Dan telfon terakhir tentangmu adalah sebuah rasa kegundahan paling tertahan karena suara- suara itu bukan dari mulutmu. Melainkan suara banyak orang yang bergantian menanyakan kabarku dan menanyakan bisakah ku pulang malam itu.

Pak…

Aku tau aku bukan anak yang baik. Gagal sebagai seorang putra. Katamu dulu aku lah tombak keluarga, makanya kau banting tulang membuatku bisa sekolah disini, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Itu tidak sia-sia. Ku harap aku bisa menyelesaikan sisanya, meski aku tahu fisikmu tak akan ada disana, saat berdiri disampingku kala aku sah sarjana.

Pak…

Waktu aku melihat rumah baru mu, aku hanya bisa berterimakasih telah menjadi yang terbaik dalam hidup meski saat itu umurku belum genap 21.

Pak…

Di atas sana, titipkan maaf dan salam ku pada Ibu juga, ya?