Cemas

Setelah hampir 4 tahun di Malang, baru sekarang merasa secemas ini. Dan entah kenapa rasanya dosen pun kurang mendukung. Tapi tak tahu lah, aku ingin mencoba tak patah. Meski kalau jujur, aku takut walau banyak penghibur. Entah apa ini namanya, tapi kepikiran dan tak tenang seperti ini benar-benar memperburuk keadaan. Sayangnya ini bukan mimpi, ini realita yang sungguh terjadi. Sedikit marah, tapi ya gimana, mungkin aku sedang kebanyakan minta padahal tertumpuk dosa. Arghh! Ga baik kalo menghitung banyak usaha, tapi ya gimana? Gimana?

Advertisements

Kau

Ku ijin kan kau untuk pergi, ku bebaskan. Tak ku rangkul lagi selayaknya apa yang biasa ku rutinkan. Sama tahu sama mau, Jess. Kau ku biarkan menikmati sibukmu dulu. Entah lah aku sedang ingin fokus untuk menyelamatkan masa depan. Aku sedang banyak tanggungan. Aku sedang mencari cara bagaimana aku bisa bertahan, bisa tetap dijalur yang telah sekian lama ku perjuangkan. Mungkin benar katamu, sendiri adalah cocok untuk aku, agar aku tak malas skripsian, tak malas untuk menuntaskan segala keringat yang banyak orang beri padaku. Tapi, Jess, bukan itu yang ku maksud dengan “aku lagi bingung harus gimana lagi sama tugasku ini”. Sebenarnya teman berbagi itu yang ku butuh, yang benar bisa tetap membuatku utuh. Tapi ya, aku paham, yang ku dekati di November pada Maret akan pindah haluan. Dan seperti biasa, aku masih dalam lingkaran setan dimana wanita ku selalu tak sempat menikmati bulan ke enam. Mungkin karena dosaku pada sesosok gadis semi Indigo dulu, yang sempat sekilas ku kisahkan padamu. Sepertinya ia masih mengharap tumbal setelah apa yang sudah aku lakukan. Ya namanya juga aku pria yang bodoh kala itu, ku pikir kau bisa sembuhkan kutuk yang ia beri padaku. Aku juga tak paham, sama sekali, wanita itu masih jadi yang terlama yang ku pacari, 2 tahun lebih sedikit. Ah sudahlah, Jess. Nikmati organisasi dan segala sibukmu. Aku memang sedang kehilangan arah persoal mau kemana arahku tertuju. Mungkin, dikemudian hari, aku bisa jauh lebih memahami situasi. Tak lupa jua, terimakasih karena bisa menjadi wanita yang menerima aku apadanya. Aku tak tahu lusa, kalau aku ingin jumpa, boleh ya? Tapi aku mau meditasi dulu, mau menenangkan akal dan pikirku, karena akhir akhir ini memang aku kurang memberi hati. Ku akui, aku benar benar linglung sekarang. Kalang kabut tak tentu arah. Ingat, Jess, jadilah wanita yang pernah kau praktekkan padaku, yang mau berbagi dengan semua orang, mau mendengar pun menyatu dengan kaum termarjinalkan. Biar nanti, kau jadi seorang wanita yang benar benar punya nurani, wanita yang benar benar pernah membuatku gila setiap hari, ah mungkin bukan pernah tetapi masih. Bodolah, yang penting kau tetap kau ya, tetap Jessica yang suka berseni dengan gamblangnya. Terimakasih, Nona.

Bisa Jadi Bisa

Sepertinya momen yang sama selalu terjadi sebelum sesuatu yang sama terjadi pula. Dan sepertinya, yang kenal di bulan November akan pisah genggaman di bulan Maret. Dari dulu selalu gitu dimulai jaman-jaman jadi mahasiswa. Yang di tahun pertama kuliah, jabatan tangan diakhir November, pisah jabatan diawal Maret. Tahun kedua kuliah, kenal gegara sesama suka nulis awal November, rapat, hangat terus meluncur beku di awal Maret. Bubar seperti tahun pertama dengan alasan yang 80% sama. Tahun ketiga kuliah, kenal akhir November, tapi jarak jauh, makin mendekati tahun baru makin menggila. Bertukar pikir bertukar cerita dari hal ga jelas sampai bahas agama. Akhirnya setelah menikmati beberapa bulan, tumbang lagi tapi di akhir Maret. Dan sekarang, tahun keempat kuliah, kenal akhir November, ga lama langsung klop, sama suka nulis, suka indie, suka aktif di manapun kapanpun, dan sepertinya, masih kemungkinan, bakalan menjadi sama seperti yang dulu-dulu di bulan Maret ini. Baunya kecium, rasanya udah pekat banget, ya menghitung hari sepertinya. Esok tak akan bisa sama, menggila hari ini, mungkin besok bertaut gerutu lagi. Ya kalo terjadi kembali, artinya jangan kenalan sama cewek menarik di bulan November (bulan lahir), lucu ya, Jess. Iya kan? Ikhlas sih tapi, ga ada yang merugi.

Surat Dari Masa Lalu

Ku dedikasikan banyak hal untuk diriku sendiri. Disitulah saat aku menjadi kelewat egois. Tapi, saat ego ku memudar lalu mendedikasikan beberapa hal kepada orang-orang yang aku anggap penting, waktuku sudah telat. Kalian akan tahu bagaimana rasanya kehilangan arah saat kalian berjuang, berusaha, melakukan banyak hal untuk orang itu, tetapi sebelum kalian menapakkan jejak di garis finish, orang itu sudah tak bisa secara fisik kalian gapai, kalian sentuh, kalian jamah. Mungkin itulah apa yang beberapa waktu ini aku rasain, dimana aku ngerasa apa yang aku lakuin dalam waktu panjang ini jadi kabur garisnya. Aku ngerasa alasanku untuk berada disini sudah sedikit berbeda dari awal mula, bukan karena aku yang mengubahnya, tapi karena kenyataan. Bisa jadi ini adalah sebab dari egoku sendiri, yang menyiakan waktu demi mengenyangkan pikiran, pengalaman dan nafsu.

Aku lalu menyarankan, untuk diriku sendiri di masa depan, ga ada gunanya kamu berproses untuk membahagiakan seseorang ketika kamu lebih peduli dan fokus dengan prosesnya, bukan orangnya. Proses bisa kamu lakuin setiap saat, bisa kamu jalanin dan kamu stop kapanpun kamu mau karena itu prosesnya milik kamu. Tetapi orang yang kamu tuju, terbatas secara independen dari waktumu. Ia tak bisa menentukan waktunya kapan sampai kamu bisa mewujudkan. Ia bisa saja menunggu, bisa membantu, tapi ia tak bisa memastikan 100% ia tetap ada saat kamu sudah menggapai hasil dari proses itu. Kamu bisa membanggakan orang lain meski sebelum kamu menuai hasil. Caranya adalah buat ia tahu progresmu, buat ia paham prosesmu, ceritakan segala-galanya tentang apa yang kau ingin wujudkan padanya. Kejutan mungkin akan lebih membanggakan, tetapi ketika ia pergi sebelum kejutan itu terjadi, yang ada hanyalah penyesalan pada diri sendiri. Kamu tak boleh jadi seperti aku, masa lalumu, kamu harus sudah paham cara mengatasi masalah-masalahku, masa lalumu. Jangan kamu menjadi kloningan atas apa yang saat ini menjadi kesalahan, kamu harus jadi lelaki yang berkembang, dengan segala pasionmu, hobimu, pemikiranmu, perasaanmu, dan tentunya janji-janjimu. Pria tua itu sudah tak bisa menikmati secara langsung apa yang kamu lakukan saat ini, begitu pula dengan wanita itu, tetapi tak berarti kamu sudah tak bisa melakukan apa-apa. Kamu harus membuat mereka tahu, membuat mereka merasakan energimu dari jauh. Kamu jadikan apa yang kamu janjikan, darah mereka ada padamu, kelak kamu bisa tunjukkan apa yang telah kamu hasilkan pada pemilik darah-darah itu, anakmu, kakakmu, semuanya, biar juangmu, prosesmu, pengalamanmu, berguna dan tidak sia-sia.

Bro, dari aku, masa lalumu, ku kirim sebuah wejangan yang kubalut sederhana, kutanamkan pada alam bawah sadarmu setiap kau membuka blog ini dan membacanya, aku sudah kehilangan arah akan apa yang sempat kujadikan tujuan, tetapi kamu, masa depanku, jangan. Salam hangat dari lelaki yang pernah membuat ragamu tak sekokoh masa kecil, aku minta maaf untuk yang satu itu. Selebihnya, aku merasa sudah menjadi pribadi yang merdeka.

Waktu yang berlalu bertanggung jawab atas pendewasaan dirimu.

Sedikit Perubahan

Ada pria yang mencoba berpenampilan rapi dan bersih. Ada yang lain berpenampilan sangar dan seram. Ada juga yang berpenampilan modis dan kekinian. Dan aku, berada pada interval berbeda dari ketiganya. Ga ada yang namanya haircut, sixpack atau apapun itu yang biasa orang masa kini sebut body goals. Dan aku ga minat persoal hal kayak gitu. Tapi, datang sebuah sadar diri kalo badan ini kelihatan kurus. Dan emang kurus sih. Padahal ortu itu badannya pernah berisi, ga kurus. Tapi emang anak-anaknya susah gemuk meski makannya banyak. Kalo aku sih makannya ga banyak, kadang lapar aja seketika lupa kalo pas lagi asik sama hobi, ntah nulis, bermusik, ngoding, ngegame dan lain sebagainya. Baru dah 6-7 jam kemudian kelaparan dilanjut makan. Mungkin masalahku itu sih kalo soal badan kurus. Tapi ga kok, aku ga mau gemuk, ga minat jadi gemuk. Aku cuma pengen jadi lebih berisi. Ga harus kelihatan berotot kayak preman gitu, ga. Yang penting jangan sampe keliatan buncit sama lembek.

Sebenernya dulu beberapa kali ngegym sama anak-anak kampus, tapi itu buat iseng aja sih sambil nyari cewek. Skip. Yang dulu nemenin ngegym emang rata-rata udah punya cewek sekarang, ya aku juga udah meski tanpa ngegym juga haha! Agak lucu emang kalo liat mereka berantem soal gym itu passion, gym itu buat bikin sehat, gym itu biar ga dibilang cupu. Aku ga peduli sih sama hal kayak gitu. Tapi, lagi, ada niatan buat ngisi waktu disela skripsi dengan hal-hal yang berfaedah lah. Mungkin sedikit tantangan atau ekstrim. Kebetulan karena punya waktu agak luang akhir-akhir ini, semoga kesampaian deh. Niatnya mau workout, atau balik ngegym lagi, yang penting nyari tambahan massa otot, dan daging. Nah masalahnya sih cuma kalo mau berisi itu butuh makan banyak. Ada yang ngasih info kalo sekarang makan segitu ga nambah berat, lipatkan. Wah, anak rantau, bicara soal dompet ini namanya. Tapi semua bisa diatur selama niat dan aksi nyata. Yah nambah 10kg aja dulu target pertama, tapi harus normal bukan buncit, maksudnya massa daging dan otot nyebar, ga cuma di perut. Selain karena udah lama banget ga olahraga yang bikin ini badan jadi makin ga jelas, bisa buat ngisi waktu biar ga cuman dibuang.

Sebuah perubahan diri terjadi ketika ada pemberontakan kepada zona nyaman. Aksi positif tak akan merugi dipenghujung hari.

Memulai Kembali

Ku akui aku suka sekali menulis. Membuat karya dari kata-kata, mau nanti jadi sajak, cerita, ataupun lagu atau sekedar tulisan biasa. Tapi untuk yang satu ini aku punya ragu.

Skripsi.

Aku ragu untuk memulai kembali. Memulai dari awal, dari judul, dari permasalahan. Serasa 4 Bab yang kemarin sedikit sia-sia. Tapi semua ada harganya.

Terhitung hari ini aku mulai meragu, oh hallo, bab 1.

Permulaan adalah fase yang memprihatinkan, meski sudah untuk beberapa kali kejadian.