Bekal Kehidupan

Sejak masuk kampus, di awal-awal, terlabeli dengan mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Entah kenapa waktu itu datang ke kampus bawa laptop, belajar sambil wifi-an, terus pulang adalah hal yang sangat menyenangkan. Ya, lama kelamaan bosan juga raga ini. Begitu lagi, begitu lagi. 

Masuk semester 2, memberanikan diri berorganisasi, masuklah ke UKM Band di kampus ini. Niatnya cuma karena musik. Disitu juga mulai aktif acara Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) di Fakultas yang selalu diidentikkan dengan keluarga kedua. Saat itu juga agak aktif di UKM Kerohanian Katolik meskipun ga religius sama sekali. Ya namanya ingin berubah dan berkembang harus mau keluar dari zona nyaman.

Singkat cerita, kala itu ikut banyak kepanitian. Bahkan tak jarang yang double beberapa kepanitiaan diwaktu yang sama. Bukan karena gimana, tapi karena rasanya enak aja jadi banyak yang dipikirin dan dilakuin. Banyak kenal orang baru, dan ga gabut, sayangnya akademik jadi terganggu karena aku bukan orang yang terlalu akademisi.

Setelah banyak berkecimpung di dunia UKM yang setara lingkungan universitas, ada kejenuhan karena orang-orang yang terkena dampaknya terlalu luas tapi efeknya lemah. Semua yang dilakukan untuk UKM ku sebut pelayanan, jadi tak ada penyesalan. Baru setelahnya, sekitar semester 3 akhir, berkumpulah aku bersama orang-orang baru. Orang-orang yang bisa dibilang urakan, ga niat kuliah dan sebagainya, padahal mereka ini kuliah dengan cara yang berbeda dari para akademisi diluar sana. Dan anehnya, aku sama seperti mereka…

Orang-orang ini selalu berdiskusi, tentang hal yang sepele kayak rokok, pacar, hutang (iya ini ada), sampe hal yang berat kayak PTNBH, gerakan mahasiswa, politik kampus dan semacamnya. Disinilah aku merasa nyaman, bahwa bukan cuma aku yang jenuh akan pembahasan murahan. Disini tak ada yang mengikat, ga cuma bahas game mulu, ga cuma bahas nilai mulu. Dari situlah mulai merasakan ada hal yang harus diubah, pola pikir.

Semester 3 dan 4 bisa dibilang semester paling jahanam. Kuliah banyak, praktikum, project akhir, sampe kepanitiaan yang bisa numpuk. Mungkin waktu itu udah 12 kepanitian yang aku ikuti. Karena sampe saat ini ada 18 kepanitiian, sisanya kegiatan-kegiatan UKM, Fakultas dan Himpunan. Masa-masa di UKM diakhiri kala semester 4. Baru setelahnya, gegara sering diskusi yang kebanyakan bahas permasalahan kampus, terutama fakultas dan jurusan, berlabuhlah aku ranah fakultas dengan aktif disana. Barulah semester 5 jadi bagian yang mengurus himpunan jurusan. Di masa itu mulai banyak wawasan baru tentang permasalahan kampus, cara buat nanganin kondisi ini itu, politik, musik dan hal-hal yang bikin aku ngerasa ini nih yang namanya kuliah. Semakin banyak debat dan diskusi yang dialami, semakin merasa haus untuk menggali ilmu-ilmu anti mainstream. Sampai pada saatnya ikut diskusi soal agnostik, atheis dan theis, diskusi soal permasalahan ini itu termasuk soal demo akan kebijakan kampus. Disitu pula mendapatkan pencerahan bahwa negara butuh pejuang.

Begitulah sampai detik tulisan ini dibuat, yaitu akhir semester 6. Banyak hal yang sudah didapat dan dilakukan. Termasuk musik yang bisa aku bilang jauh berkembang. Semakin merasakan nikmatnya kehidupan perkuliahan yang ga sekedar akademisi. Tapi… setelah demisioner dari himpunan, setelah tuntas semua tanggung jawab di kepanitiaan, aku ingin istirahat. Berhenti sejenak dari kesibukan itu. Karena lagi-lagi aku jenuh. Jenuh bukan karena bosan, tapi karena hal itu sudah jadi rutinitasku hampir 3 tahun ini. Aku sudah mulai berpikir tentang kedepannya mau jadi apa, mau gimana. Mulai kembali berpikir tentang passion, tentang gimana sukses sesuai keinginan, tentang cara menjadi orang yang berguna dan ga sekedar jadi orang pada umumnya. Makanya aku mencoba hal yang baru. Aku udah terlalu nyaman di organisasi dan kepanitiaan. Dan sama seperti yang diawal aku bilang, kita butuh keluar dari zona nyaman untuk berkembang.

Sebelumnya, aku berterimakasih semua hal itu udah menjadi bekal dan proses pendewasaan yang menyenangkan. Terimakasih telah memberikan kenikmatan di masa-masa perkuliahan. Sekarang aku mau bereksperimen untuk hal yang baru. Pasti akan ada yang janggal setelah sekian lama aktif ini itu, tapi sekarang juga bakalan tetap aktif kok, hanya berbeda jalan saja. Tujuannya sama, sukses. Tenang saja. Gondrong (saat tulisan ini dibuat) tetaplah Gondrong yang kalian kenal. Selalu ada untuk diskusi, selalu ada untuk berbagi cerita. Kita hanya berbeda poros saja, ideologi tetap sama. Merdeka!

Tak nampak tak berarti tak gerak. Kasat mata tak kasat rasa

Advertisements

Cerita Tentang Si Hitam dan Sang Putih

Aku awali cerita singkat ini dengan sejumlah kata kunci: hitam, putih, kedewasaan, hubungan, keyakinan. Bagiku Hitam tak melulu soal yang jahat, tak selalu soal dosa yang teramat amat. Sedangkan Putih tak berarti suci, tak selamanya tentang kebersihan hati nurani. Disini, Hitam adalah aku, sembari Putih adalah kamu.

Inget ga dulu jaman-jaman awal kamu suka broadcasting? Iya Putih, kamu pernah suka itu. Aku cuma ngingetin, dulu pas kita kerja bareng aku sempet keringat dingin. Ya ga separah itu juga, cuma kadang terlalu mengapresiasi pesona adalah kesalahan paling pertama. Singkat cerita itu adalah sebuah acara jalan santai yang ga bikin santai. Seenggaknya tetep ada sedikit kebahagiaan yang terselip disela kesibukan. Dulu itu kita kayak sepasang remaja goblok. Sang Putih curhat, si Hitam mendengarkan dan begitupun sebaliknya. Tapi, meski tanpa status, kalo udah marahan kayak perang aja harus nyusun strategi sesuai kapasitas kesadaran diri. Hal yang susah untuk dihilangkan salah satunya adalah kemampuan Sang Putih yang bisa baca pikiran. Bisa sealot itu ngasih statement dan bisa tau langsung apa yang dimau. Mungkin sebuah hal yang unik itu yang bikin dulu sempet luluh sama kamu. Hal yang ga biasanya aku bisa terima tapi entah ada tenaga tak kasat mata yang terus bilang harus bisa. Dan kita pernah sedekat itu, sedekat kelopak bunga bersama embun.

Tapi tidak lagi…

Bukan berarti kita jauh, bukan. Kita cuma jarang dapat dianalogikan lewat sebuah perjumpaan. Hal yang selalu kita bahas adalah hal-hal diluar nalar, sesuatu yang ga cuma “kamu udah makan?”. Bahkan aku ga inget kita pernah nanya hal kayak gitu. Tiga kata kunci sudah aku bahas, Hitam, Putih, Hubungan. Dua sisanya mau dibahas gimana? Katanya cuma cerita singkat jadi ya… udah.

Kedewasaan adalah sebuah sikap yang berisi kemampuan untuk sadar akan diri, lalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan kesadaran itu sendiri. Dewasa bukan berarti harus bijak, berwibawa atau apapun itu yang biasanya disandangkan ke manusia yang sudah tua. Dan kita, pernah mengakui bahwasanya saling dewasa, saling punya sifat dan sikap yang bisa ditanggung dan dijawab. Tapi… kita masih saja kala itu dibungkus oleh fisik remaja, dikontrol oleh naluri berhura-hura, lalu dibawa kedalam beribu nuansa suasana. Tidak apa-apa, toh itu yang dinamakan rasa.

Seiring berjalannya waktu, lelaki ini itu masuk di harianmu, begitu pula perempuan ini itu masuk di harianku. Bukan berarti kita tak komitmen, hanya saja kita ga pernah bahas soal komitmen itu. Semuanya kayak lisan tak tertulis. Dan… berujung tak manis. Keyakinan adalah hak manusia, tanpa paksaan, tanpa dorongan, tanpa embel-embel golongan. Dan disini si Hitam dan Sang Putih tak mau menyalahkan keyakinan. Mereka cuma tak mau hubungan dijadikan mainan yang bisa berdampak besar di masa depan. Sampai di titik itu, si Hitam dan Sang Putih tetap bersatu, menjadi sebuah hubungan yang saling sama-sama tahu. Dari sana pula si Hitam mendapatkan lega, bahwa yang diperjuangkan tak selamanya berakhir menang. Dan dengan cara-cara seperti itu lah si Hitam dan Sang Putih berkembang.

Kita belajar tentang mengikhlaskan yang tak seharusnya dipaksakan

Belum Genap 21

Pak…

Sekitar sebulan lagi aku ulang tahun. Sebuah tanggal yang mungkin keluarga kita lupa karena jarang  dan hampir tak pernah merayakannya.

Pak…

Aku juga sedari kecil tak tahu tanggal lahirmu, tanggal yang seharusnya bisa ku rayakan entah pada 25, 50 ataupun ketika selayaknya itu. Tapi sekarang aku tahu setelah melihat KTP pada dompet kulitmu yang umurnya lebih tua dari aku.

Pak…

Aku lupa mau bilang kalau aku cinta Bapak, kalo aku sayang Bapak dan selalu berdoa sejak SMP mengucap mantra “Bapak sehat terus, hidup terus sampai 100 tahun lebih”. Dan mantra itu pula  yang aku ucapkan diakhir ketidakjelasan sembari tersedu disudut kamar kosan.

Pak…

Jumpa fisik terakhir kita sebelum aku semester 5. Disitu Bapak sendiri, duduk di kursi, terlihat jelas menahan sakit. Setelah aku ke kota orang mencari ilmu, tumben tak ada kabar darimu. Tak ada telfon yang dulu kau coba selipkan diujung malam atas kesadaranmu akan sibukku yang berketerusan. Dan telfon terakhir tentangmu adalah sebuah rasa kegundahan paling tertahan karena suara- suara itu bukan dari mulutmu. Melainkan suara banyak orang yang bergantian menanyakan kabarku dan menanyakan bisakah ku pulang malam itu.

Pak…

Aku tau aku bukan anak yang baik. Gagal sebagai seorang putra. Katamu dulu aku lah tombak keluarga, makanya kau banting tulang membuatku bisa sekolah disini, di sebuah Perguruan Tinggi Negeri. Itu tidak sia-sia. Ku harap aku bisa menyelesaikan sisanya, meski aku tahu fisikmu tak akan ada disana, saat berdiri disampingku kala aku sah sarjana.

Pak…

Waktu aku melihat rumah baru mu, aku hanya bisa berterimakasih telah menjadi yang terbaik dalam hidup meski saat itu umurku belum genap 21.

Pak…

Di atas sana, titipkan maaf dan salam ku pada Ibu juga, ya?