Surat Dari Masa Lalu

Ku dedikasikan banyak hal untuk diriku sendiri. Disitulah saat aku menjadi kelewat egois. Tapi, saat ego ku memudar lalu mendedikasikan beberapa hal kepada orang-orang yang aku anggap penting, waktuku sudah telat. Kalian akan tahu bagaimana rasanya kehilangan arah saat kalian berjuang, berusaha, melakukan banyak hal untuk orang itu, tetapi sebelum kalian menapakkan jejak di garis finish, orang itu sudah tak bisa secara fisik kalian gapai, kalian sentuh, kalian jamah. Mungkin itulah apa yang beberapa waktu ini aku rasain, dimana aku ngerasa apa yang aku lakuin dalam waktu panjang ini jadi kabur garisnya. Aku ngerasa alasanku untuk berada disini sudah sedikit berbeda dari awal mula, bukan karena aku yang mengubahnya, tapi karena kenyataan. Bisa jadi ini adalah sebab dari egoku sendiri, yang menyiakan waktu demi mengenyangkan pikiran, pengalaman dan nafsu.

Aku lalu menyarankan, untuk diriku sendiri di masa depan, ga ada gunanya kamu berproses untuk membahagiakan seseorang ketika kamu lebih peduli dan fokus dengan prosesnya, bukan orangnya. Proses bisa kamu lakuin setiap saat, bisa kamu jalanin dan kamu stop kapanpun kamu mau karena itu prosesnya milik kamu. Tetapi orang yang kamu tuju, terbatas secara independen dari waktumu. Ia tak bisa menentukan waktunya kapan sampai kamu bisa mewujudkan. Ia bisa saja menunggu, bisa membantu, tapi ia tak bisa memastikan 100% ia tetap ada saat kamu sudah menggapai hasil dari proses itu. Kamu bisa membanggakan orang lain meski sebelum kamu menuai hasil. Caranya adalah buat ia tahu progresmu, buat ia paham prosesmu, ceritakan segala-galanya tentang apa yang kau ingin wujudkan padanya. Kejutan mungkin akan lebih membanggakan, tetapi ketika ia pergi sebelum kejutan itu terjadi, yang ada hanyalah penyesalan pada diri sendiri. Kamu tak boleh jadi seperti aku, masa lalumu, kamu harus sudah paham cara mengatasi masalah-masalahku, masa lalumu. Jangan kamu menjadi kloningan atas apa yang saat ini menjadi kesalahan, kamu harus jadi lelaki yang berkembang, dengan segala pasionmu, hobimu, pemikiranmu, perasaanmu, dan tentunya janji-janjimu. Pria tua itu sudah tak bisa menikmati secara langsung apa yang kamu lakukan saat ini, begitu pula dengan wanita itu, tetapi tak berarti kamu sudah tak bisa melakukan apa-apa. Kamu harus membuat mereka tahu, membuat mereka merasakan energimu dari jauh. Kamu jadikan apa yang kamu janjikan, darah mereka ada padamu, kelak kamu bisa tunjukkan apa yang telah kamu hasilkan pada pemilik darah-darah itu, anakmu, kakakmu, semuanya, biar juangmu, prosesmu, pengalamanmu, berguna dan tidak sia-sia.

Bro, dari aku, masa lalumu, ku kirim sebuah wejangan yang kubalut sederhana, kutanamkan pada alam bawah sadarmu setiap kau membuka blog ini dan membacanya, aku sudah kehilangan arah akan apa yang sempat kujadikan tujuan, tetapi kamu, masa depanku, jangan. Salam hangat dari lelaki yang pernah membuat ragamu tak sekokoh masa kecil, aku minta maaf untuk yang satu itu. Selebihnya, aku merasa sudah menjadi pribadi yang merdeka.

Waktu yang berlalu bertanggung jawab atas pendewasaan dirimu.

Advertisements

Muak

Sudah…

Sudah muak…

Yang lalu lalang kayak gini bikin aku muak. Asli muak. Dan kemuakkan itu terkumpul jadi satu di 07-07-17. Silahkan kalian pergi aja semua.  Aku mau bersihin, musnahin, punahin kalian sampai ga ada sisa. Why me tho. Emosi dan orang orang terkhususkan bisa gitu ngumpul, berbaur menjadi bangsat, di waktu yang sama.

Ah asu!

Bodoamat. Semoga kalian tenang, semoga kalian senang. Salam buat penyesalan kalian di masa depan. Sekian!!!