Secangkir Kopi Hitam

Sore itu, seperti biasanya, aku menikmati senja sambil duduk santai di pagar rumah. Gemericik air sungai yang sedari kecil menemani aku selalu menjadi kesejukan tersendiri dikala penat seharian penuh. Aku hanya duduk disana, sendiri diantara keramaian yang sepi. Ingat aku kala gerimis membawa suasana yang sedikit sadis. Menuju senja tiba, tak berhenti jua tetesnya… 

Dengan mataku yang sedikit rabun kupandangi pohon rambutan di seberang sana. Yang dari dulu biasa kuambil buahnya tanpa bilang ke yang punya. Tapi, senja itu tak lagi sama. Tak lagi terisi oleh celoteh garing orang yang dulu membuat kami dihitung tiga. Sekarang? Dua! Dingin kala itu membuatku ingin yang hangat hangat, yang sebisa mungkin dibalut pekat. Dan terjadilah pada akhirnya, ku buat kopi pada cangkir besar yang merah tua.

Kopi ini, kuminum sejak aku belum sekolah, sebelum TK malah. Kopi yang sama seperti 17 tahun silam. Kopi berlogo kapal yang bercampur merah hitam. Kopi yang dulu kita minum bertiga hampir disetiap penghujung senja…

Kopi ini… saksi perjamuan abadi…

Getir yang terkecap dalam pekat sedahsyat penyesalan yang selalu hadir paling telat

Advertisements