Gadis Kecil

Akan selalu ku kasihi pada seorang gadis kecil yang ku kagumi. Bahwa dia akan selalu ada dalam setiap hela, selalu bersemayam dalam setiap jelangnya malam. Dan bahwa dia akan selalu bersemi diantara ego dan sadar diri. Gadis ini akan ku jadikan patokan, kelak ku pertemukan dengan lelaki yang semestinya, selayaknya, yang tidak kelewat lebih tapi tak lantas berkekurangan. Biar dia saja yang memilih, jangan dipilih.

Sesosok kecil ini akan selalu ku rawat meski tak sempat, ku temani meski tak selalu disini. Dia adalah cara aku menunjukkan terimakasih kepada air yang menjadikannya tegar, kepada udara yang menjadikannya lembut, dan kepada tanah yang menjadikannya tumbuh. Akan tiba masanya, aku berkata, dengan tanpa sedikit ragu, tanah sepetak itu buat kamu. Dia butuh tempat, dia butuh ruang. Bila kelak ia mapan terserah mau diapakan yang sudah terberikan.

Gadis kecil ini akan ku buat tak menaruh hati padaku, menganggapku lelaki pada umumnya, bukan orang yang penting bagi dia. Agar kelak ketika dia tua, yang mana aku lebih dulu pastinya, dia tak akan kerepotan memikirkan aku, dia bisa bebas menjadi apa yang dia mau. Biar ketika dia tumbuh, dia merasa tumbuh karena dirinya sendiri, bukan karena sesosok lelaki ini. Namun, dia tak perlu tahu tentang kasih dan sayangku, karena gadis kecil ini sudah perwujudan dari semua itu. Aku akan menjadi lega kelak ketika aku tetap mampu melihatnya menua, terduduk mesra diusia senja, tersenyum dan berseri disamping lelaki pilihannya. Aku akan menghargai semua itu, gadis kecil ini adalah rahasia yang seharusnya tak ku tulis. Tetapi, manusia akan tetap menjadi manusia dengan segala kesuka-suka merekanya.

Gadis Kecil, ku tunggu kau berjuang dan menuai hasil.

Yang terberi secara ikhlas akan tumbuh dan berkembang dengan pantas.

Advertisements

Cerita Tentang Si Hitam dan Sang Putih

Aku awali cerita singkat ini dengan sejumlah kata kunci: hitam, putih, kedewasaan, hubungan, keyakinan. Bagiku Hitam tak melulu soal yang jahat, tak selalu soal dosa yang teramat amat. Sedangkan Putih tak berarti suci, tak selamanya tentang kebersihan hati nurani. Disini, Hitam adalah aku, sembari Putih adalah kamu.

Inget ga dulu jaman-jaman awal kamu suka broadcasting? Iya Putih, kamu pernah suka itu. Aku cuma ngingetin, dulu pas kita kerja bareng aku sempet keringat dingin. Ya ga separah itu juga, cuma kadang terlalu mengapresiasi pesona adalah kesalahan paling pertama. Singkat cerita itu adalah sebuah acara jalan santai yang ga bikin santai. Seenggaknya tetep ada sedikit kebahagiaan yang terselip disela kesibukan. Dulu itu kita kayak sepasang remaja goblok. Sang Putih curhat, si Hitam mendengarkan dan begitupun sebaliknya. Tapi, meski tanpa status, kalo udah marahan kayak perang aja harus nyusun strategi sesuai kapasitas kesadaran diri. Hal yang susah untuk dihilangkan salah satunya adalah kemampuan Sang Putih yang bisa baca pikiran. Bisa sealot itu ngasih statement dan bisa tau langsung apa yang dimau. Mungkin sebuah hal yang unik itu yang bikin dulu sempet luluh sama kamu. Hal yang ga biasanya aku bisa terima tapi entah ada tenaga tak kasat mata yang terus bilang harus bisa. Dan kita pernah sedekat itu, sedekat kelopak bunga bersama embun.

Tapi tidak lagi…

Bukan berarti kita jauh, bukan. Kita cuma jarang dapat dianalogikan lewat sebuah perjumpaan. Hal yang selalu kita bahas adalah hal-hal diluar nalar, sesuatu yang ga cuma “kamu udah makan?”. Bahkan aku ga inget kita pernah nanya hal kayak gitu. Tiga kata kunci sudah aku bahas, Hitam, Putih, Hubungan. Dua sisanya mau dibahas gimana? Katanya cuma cerita singkat jadi ya… udah.

Kedewasaan adalah sebuah sikap yang berisi kemampuan untuk sadar akan diri, lalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan kesadaran itu sendiri. Dewasa bukan berarti harus bijak, berwibawa atau apapun itu yang biasanya disandangkan ke manusia yang sudah tua. Dan kita, pernah mengakui bahwasanya saling dewasa, saling punya sifat dan sikap yang bisa ditanggung dan dijawab. Tapi… kita masih saja kala itu dibungkus oleh fisik remaja, dikontrol oleh naluri berhura-hura, lalu dibawa kedalam beribu nuansa suasana. Tidak apa-apa, toh itu yang dinamakan rasa.

Seiring berjalannya waktu, lelaki ini itu masuk di harianmu, begitu pula perempuan ini itu masuk di harianku. Bukan berarti kita tak komitmen, hanya saja kita ga pernah bahas soal komitmen itu. Semuanya kayak lisan tak tertulis. Dan… berujung tak manis. Keyakinan adalah hak manusia, tanpa paksaan, tanpa dorongan, tanpa embel-embel golongan. Dan disini si Hitam dan Sang Putih tak mau menyalahkan keyakinan. Mereka cuma tak mau hubungan dijadikan mainan yang bisa berdampak besar di masa depan. Sampai di titik itu, si Hitam dan Sang Putih tetap bersatu, menjadi sebuah hubungan yang saling sama-sama tahu. Dari sana pula si Hitam mendapatkan lega, bahwa yang diperjuangkan tak selamanya berakhir menang. Dan dengan cara-cara seperti itu lah si Hitam dan Sang Putih berkembang.

Kita belajar tentang mengikhlaskan yang tak seharusnya dipaksakan