Senja Bersabda

Wahai sepertiga malam yang selalu kunikmati, hadirmu selalu diawali oleh datangnya senja hari. Waktu terdahsyat untuk mencari inspirasi. Waktu terhebat untuk merenung dan berekspresi. Senja selalu berada pada puncak rasa gila, melonjaknya endorfin dan adrenalin yang tiba-tiba. Tak kusangka aku mampu tersadar, dari linglungku yang samar-samar. Seperti mengajakku untuk berkelahi, melawan ego dalam diri. Oh nikmatnya, terluap semua di satu masa.

Kala itu aku mencoba menggarisbawahi langit gelap. Berharap kelak bintang akan lelah dan hinggap. Dari sana akan kucabangkan cita-cita. Bahwa asa tak harus sekecil biji semangka. Dia harus mampu bercabang banyak. Mampu berakar dan beranak pinak. Lalu kelak cita-cita itu akan menghasilkan benih baru. Sebuah warisan yang tak semurah kekayaan semu. Aku jelas tak mau jadi pengejar harapan. Aku empunya, aku membuat apa yang aku suka. Tentu dengan selayak dan sepantasnya. Tak mau pula aku menggengsikan diri. Harus begitu harus begini. Aku tak serepot itu, karena kesempurnaan bukan hal yang aku tuju.

Senja telah bersabda, seperti apa yang kau telah baca. Lupa? Tengok kembali di atas sana. Aku selalu ragu bukan karena aku tak mampu. Tapi karena senja pernah mengajarkan ku: ragumu karena terlalu peduli pada orang lain lebih bermanfaat daripada yakinmu yang cuma untuk diri sendiri. Ya, aku tak mau jadi individualis garis keras. Mereka orang sakit, yang hidup hanya untuk kesenangan dan duit. Modal mereka cuma yakin, quote motivasi dan ego diri. Tak mau aku, aku tak sudi. Biar kelak senja yang menghakimi mereka. Sebijak senja yang pernah bersabda.

Kulayangkan cita pada sepucuk prasangka di kala senja terpaksa tiba 

Advertisements

Cerita Tentang Si Hitam dan Sang Putih

Aku awali cerita singkat ini dengan sejumlah kata kunci: hitam, putih, kedewasaan, hubungan, keyakinan. Bagiku Hitam tak melulu soal yang jahat, tak selalu soal dosa yang teramat amat. Sedangkan Putih tak berarti suci, tak selamanya tentang kebersihan hati nurani. Disini, Hitam adalah aku, sembari Putih adalah kamu.

Inget ga dulu jaman-jaman awal kamu suka broadcasting? Iya Putih, kamu pernah suka itu. Aku cuma ngingetin, dulu pas kita kerja bareng aku sempet keringat dingin. Ya ga separah itu juga, cuma kadang terlalu mengapresiasi pesona adalah kesalahan paling pertama. Singkat cerita itu adalah sebuah acara jalan santai yang ga bikin santai. Seenggaknya tetep ada sedikit kebahagiaan yang terselip disela kesibukan. Dulu itu kita kayak sepasang remaja goblok. Sang Putih curhat, si Hitam mendengarkan dan begitupun sebaliknya. Tapi, meski tanpa status, kalo udah marahan kayak perang aja harus nyusun strategi sesuai kapasitas kesadaran diri. Hal yang susah untuk dihilangkan salah satunya adalah kemampuan Sang Putih yang bisa baca pikiran. Bisa sealot itu ngasih statement dan bisa tau langsung apa yang dimau. Mungkin sebuah hal yang unik itu yang bikin dulu sempet luluh sama kamu. Hal yang ga biasanya aku bisa terima tapi entah ada tenaga tak kasat mata yang terus bilang harus bisa. Dan kita pernah sedekat itu, sedekat kelopak bunga bersama embun.

Tapi tidak lagi…

Bukan berarti kita jauh, bukan. Kita cuma jarang dapat dianalogikan lewat sebuah perjumpaan. Hal yang selalu kita bahas adalah hal-hal diluar nalar, sesuatu yang ga cuma “kamu udah makan?”. Bahkan aku ga inget kita pernah nanya hal kayak gitu. Tiga kata kunci sudah aku bahas, Hitam, Putih, Hubungan. Dua sisanya mau dibahas gimana? Katanya cuma cerita singkat jadi ya… udah.

Kedewasaan adalah sebuah sikap yang berisi kemampuan untuk sadar akan diri, lalu melakukan segala sesuatunya berdasarkan kesadaran itu sendiri. Dewasa bukan berarti harus bijak, berwibawa atau apapun itu yang biasanya disandangkan ke manusia yang sudah tua. Dan kita, pernah mengakui bahwasanya saling dewasa, saling punya sifat dan sikap yang bisa ditanggung dan dijawab. Tapi… kita masih saja kala itu dibungkus oleh fisik remaja, dikontrol oleh naluri berhura-hura, lalu dibawa kedalam beribu nuansa suasana. Tidak apa-apa, toh itu yang dinamakan rasa.

Seiring berjalannya waktu, lelaki ini itu masuk di harianmu, begitu pula perempuan ini itu masuk di harianku. Bukan berarti kita tak komitmen, hanya saja kita ga pernah bahas soal komitmen itu. Semuanya kayak lisan tak tertulis. Dan… berujung tak manis. Keyakinan adalah hak manusia, tanpa paksaan, tanpa dorongan, tanpa embel-embel golongan. Dan disini si Hitam dan Sang Putih tak mau menyalahkan keyakinan. Mereka cuma tak mau hubungan dijadikan mainan yang bisa berdampak besar di masa depan. Sampai di titik itu, si Hitam dan Sang Putih tetap bersatu, menjadi sebuah hubungan yang saling sama-sama tahu. Dari sana pula si Hitam mendapatkan lega, bahwa yang diperjuangkan tak selamanya berakhir menang. Dan dengan cara-cara seperti itu lah si Hitam dan Sang Putih berkembang.

Kita belajar tentang mengikhlaskan yang tak seharusnya dipaksakan