Aku Tahu, Ayah

Ayah,
Aku tau ayah letih,
Aku tau ayah lelah

Ayah,
Kasar jarimu bukan berarti kau tak punya hati
Wajah layumu bukan berarti kau tak punya waktu
Kau cuma sedang sibuk untuk masa depanku

Ayah,
Aku sudah besar
Aku sudah mampu untuk membuatmu berbinar
Kau sudah membentuk aku
Kau bentuk tanpa paksa
Kau buat aku jadi manusia

Ayah,
Istirahatlah,
Sekarang waktuku untuk berjuang tanpa lelah

Advertisements

Vinka

Vinka,
Ijinkan ku bicara
Narasikan kegelisahan
Kembali pada waktu mentari
Awali harimu dengan hangat pagi

Perlahan
Energi kan melawan
Tenang dalam pikiran
Ragumu kan sirna dan berlalu
Aku pun butuh kamu

Tersenyumlah…
Percayalah…
Kamu pasti bisa
Jangan lelah…
Jangan pasrah…
Tuhan pasti sembuhkan
Berjuang dan bertahan

Vinka…
Inilah dunia
Elegi…
Normal tuk dinikmati
Sayangku…
Aku butuh kamu

(Diambil dari lirik laguku, dengan judul yang sama)

Perut Kusut

Ini…
Tak sesehat dulu lagi…
Rasa lilit kala pagi
Rasa sebah malam nanti

Perut…
Sudikah kau untuk sembuh?
Sudikah kau berhenti mengeluh?
Biar ku mampu bermosing selalu

Ini sangat tak nyaman
Seperti rasa kulit yang tertikam
Tusuk… tusuk… tusuk…

Salahku apa?
Apa terlalu banyak kutelan dosa?
Jawab… jawab… jawab…

Sensasi ini sedari kaki ke rambut
Tersiksa aku, Perut Kusut

Teruntuk Wanita Penulis Sajak

Hai nona penulis sajak…

Aku pengagummu. Aku penikmat sari senimu. Tetaplah menulis dan berekspresi karena mungkin itulah jalanmu nanti. Jalan yang selalu kau tanyakan pada Bumi. Jangan ragu pada karyamu, karena aku, salah satu saksi keindahan itu. Biarkan aku menengokmu dari luar pagar. Dari batas yang selalu kau garis tiap kali aku mencoba menyapa manis.

Dengar ini nona si penulis sajak. Ijinkan aku setidaknya tetap bernafas bersama lega. Rasa yang sama saat kau curahkan emosi dalam setiap penggalan kata. Percaya aku, percayalah. Yang kau tuang itu sangat indah. Hal yang lama tak ku jumpa pada buku-buku berlabel karya sastra. Sebenarnya ingin aku mengusap tangismu. Langung, tanpa tisue. Ingin pula aku menculikmu, membawamu pergi dari kelammu. Namun aku tak yakin, takut aku jadi kelammu yang lain.

Nona, kita sama-sama tahu, seni bukan untuk dikomersialisasi. Tapi, tak ada salahnya kau biarkan dunia merasakannya, menikmati setiap tuturmu yang apa adanya. Cukup kau saja yang tau, kelak yang kau tulis akan jadi alasan kau mampu tersenyum manis. Ijinkan egomu pudar, lalu peluk dunia dengan tegar.

Nona, lahirmu bulan ke-7 kan ya?

Semua jerih dan lelah akan menjadikanmu sejarah

Berdialog Dengan Tembok

Di sudut kamar kosan ini
Gitarku bersandar pada cat yang pudar
Laba-laba diatasnya melambai mesra
Ya… mereka menyapaku dalam tawa

Bidang datar tembok tanpa gambar
Kadang ku jadikan teman
Kala paras paras manusia penuh drama
Satupun tak mampu kokohkan hatinya

Tak seperti beton tembok ini
Yang dibalut kenangan…
Yang diratap khayalan…
Yang disekap dinginnya malam…

Aku…
Ingin sekali lagi…
Berdialog bersama tembok pagi ini

Bercerita tentang putih abu-abu
Berteriak soal gumam dan gerutu
Bercengkrama akan alfa dan omega
Berdebat perihal theis dan nabinya

Laju Kaki Kaku

Awal mengajarkan tentang kesiapan
Akhir mengajarkan tentang hasil juang
Tapi aku tengah tersesat
Di sepertiga jalan yang tersumbat penat

Lalu terduduk aku ditepi sini
Tengok kanan… tengok kiri…
Sudahkah benar peta yang kubawa?
Atau sudikah aku beranjak tuk bertanya?

Lalu lalang lancang pejalan kaki
Aku sendiri… bingung berpikir…
Datang seorang tua tersenyum menyapa
“Mau kemana kau, nak?” tanyanya

Ku sapa balik sesosok itu
Menengadah keatas menahan malu
“Ingin ke tujuan, bu.” jawabku
Seketika ia balas dengan senyum

Ditunjuknya sebuah gang diujung sana
Dibisikannya tiga kata pada telinga
Bangkit, tatap, dan melangkahlah
Seketika laju kaki kaku ku mulai terarah