Gadis Kecil

Akan selalu ku kasihi pada seorang gadis kecil yang ku kagumi. Bahwa dia akan selalu ada dalam setiap hela, selalu bersemayam dalam setiap jelangnya malam. Dan bahwa dia akan selalu bersemi diantara ego dan sadar diri. Gadis ini akan ku jadikan patokan, kelak ku pertemukan dengan lelaki yang semestinya, selayaknya, yang tidak kelewat lebih tapi tak lantas berkekurangan. Biar dia saja yang memilih, jangan dipilih.

Sesosok kecil ini akan selalu ku rawat meski tak sempat, ku temani meski tak selalu disini. Dia adalah cara aku menunjukkan terimakasih kepada air yang menjadikannya tegar, kepada udara yang menjadikannya lembut, dan kepada tanah yang menjadikannya tumbuh. Akan tiba masanya, aku berkata, dengan tanpa sedikit ragu, tanah sepetak itu buat kamu. Dia butuh tempat, dia butuh ruang. Bila kelak ia mapan terserah mau diapakan yang sudah terberikan.

Gadis kecil ini akan ku buat tak menaruh hati padaku, menganggapku lelaki pada umumnya, bukan orang yang penting bagi dia. Agar kelak ketika dia tua, yang mana aku lebih dulu pastinya, dia tak akan kerepotan memikirkan aku, dia bisa bebas menjadi apa yang dia mau. Biar ketika dia tumbuh, dia merasa tumbuh karena dirinya sendiri, bukan karena sesosok lelaki ini. Namun, dia tak perlu tahu tentang kasih dan sayangku, karena gadis kecil ini sudah perwujudan dari semua itu. Aku akan menjadi lega kelak ketika aku tetap mampu melihatnya menua, terduduk mesra diusia senja, tersenyum dan berseri disamping lelaki pilihannya. Aku akan menghargai semua itu, gadis kecil ini adalah rahasia yang seharusnya tak ku tulis. Tetapi, manusia akan tetap menjadi manusia dengan segala kesuka-suka merekanya.

Gadis Kecil, ku tunggu kau berjuang dan menuai hasil.

Yang terberi secara ikhlas akan tumbuh dan berkembang dengan pantas.

Advertisements

Singkat

Judul itu sudah merangkum semua sikap yang kau beri padaku, Nona.

Tak jauh beda dengan catatan ini yang sama-sama singkat!

Muak

Sudah…

Sudah muak…

Yang lalu lalang kayak gini bikin aku muak. Asli muak. Dan kemuakkan itu terkumpul jadi satu di 07-07-17. Silahkan kalian pergi aja semua.  Aku mau bersihin, musnahin, punahin kalian sampai ga ada sisa. Why me tho. Emosi dan orang orang terkhususkan bisa gitu ngumpul, berbaur menjadi bangsat, di waktu yang sama.

Ah asu!

Bodoamat. Semoga kalian tenang, semoga kalian senang. Salam buat penyesalan kalian di masa depan. Sekian!!!

Teruntuk Wanita Penulis Sajak

Hai nona penulis sajak…

Aku pengagummu. Aku penikmat sari senimu. Tetaplah menulis dan berekspresi karena mungkin itulah jalanmu nanti. Jalan yang selalu kau tanyakan pada Bumi. Jangan ragu pada karyamu, karena aku, salah satu saksi keindahan itu. Biarkan aku menengokmu dari luar pagar. Dari batas yang selalu kau garis tiap kali aku mencoba menyapa manis.

Dengar ini nona si penulis sajak. Ijinkan aku setidaknya tetap bernafas bersama lega. Rasa yang sama saat kau curahkan emosi dalam setiap penggalan kata. Percaya aku, percayalah. Yang kau tuang itu sangat indah. Hal yang lama tak ku jumpa pada buku-buku berlabel karya sastra. Sebenarnya ingin aku mengusap tangismu. Langung, tanpa tisue. Ingin pula aku menculikmu, membawamu pergi dari kelammu. Namun aku tak yakin, takut aku jadi kelammu yang lain.

Nona, kita sama-sama tahu, seni bukan untuk dikomersialisasi. Tapi, tak ada salahnya kau biarkan dunia merasakannya, menikmati setiap tuturmu yang apa adanya. Cukup kau saja yang tau, kelak yang kau tulis akan jadi alasan kau mampu tersenyum manis. Ijinkan egomu pudar, lalu peluk dunia dengan tegar.

Nona, lahirmu bulan ke-7 kan ya?

Semua jerih dan lelah akan menjadikanmu sejarah